Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Waktu Aku Sama Kamu

Posted by Aulia RA , Thursday, 6 August 2015 00:40

Aku pernah lancang bilang ke kamu, "Aku nggak bahagia sama kamu!" Maafkan aku, aku sangat tidak berterimakasih ke kamu. Aku jahat. Aku egois. Sebenarnya aku belum mengerti benar definisi kebahagiaan itu seperti apa. Apakah bahagia itu jika aku punya banyak uang? Punya banyak barang mewah? Apakah ketika aku selalu mendapat hadiah dari kamu? Ucapan selamat tidur dari kamu? Tidak. Bahagia bukan itu. Sekarang aku paham, bahagia itu saat aku sama kamu. Cukup kehadiranmu saja, aku sudah sangat senang. Waktu aku sama kamu, aku lupa sejenak dengan segala permasalahan yang menimpaku. Aku senang mendengarkan ceritamu, aku senang saat kamu meledekku "ebrot" (walau sedikit kesal), aku senang memasak nasi goreng bersamamu, aku senang melihatmu menghabiskan makananku (aku sering tidak habis saat makan), aku senang melihatmu tertidur pulas apalagi sambil ngorok dan ngiler, aku senang melihat wajahmu ketika bangun tidur; wajahmu lucu seperti anak kecil yang kebingungan, dan aku senang menjadi perempuan yang kamu titipkan hatimu padanya. Ya, aku bahagia. Aku bahagia waktu sama kamu. Lewat hal-hal kecil dan sederhana, aku bahagia.

Aku jadi teringat dengan masa-masa dulu. Masa perkenalan kita. Kita dipertemukan oleh sebuah kampus. Dan ternyata kita berada di kelas yang sama. Aku benar-benar tidak menyangka. Sebuah kelas yg mayoritas anak laki-laki, ternyata ada satu lelaki yang nyantol di hatiku. Prosesnya terbilang cukup lama. Tidak langsung begitu saja. Sejak hari pertama masuk kuliah sampai berbulan-bulan sesudahnya, aku tidak merasakan apapun padamu. Aku yang begitu cuek, menutup hati, dan agak membencimu. Bukan membenci ya, lebih tepatnya kesal, karena sebuah kejadian di awal perkuliahan. 

Temanku bercerita padaku bahwa dia menanyakan soal pacarmu dan kamu jawab aku. "Pacarmu siapa?" temanku bertanya.
"Tuh, anak Temanggung," jawabmu.
Satu-satunya anak Temanggung di kelas itu adalah aku. Atau mungkin aku dan temanku yang "kegeeran". Ah, intinya temanku itu menggodaku. "Ciye ciye, pacarnya anak Temanggung.." godanya.
Saat itu, aku melihatmu sedang mengumpulkan KTP anak laki-laki, tidak tahu untuk apa. Lalu tiba-tiba kamu datang menghampiri aku dan temanku. "Aul, mana KTP-mu?" tanyamu.  Batinku, buat apa tanya KTP, bukannya yang dikumpul hanya anak laki-laki. "Nggak ada, buat apa?" aku balik bertanya. "Mau aku bawa ke KUA, buat daftarin kita, hehe," jawabmu bercanda. "Idiiih, gombal iyuuh!" batinku dalam hati. Aku hanua menjawab "Aiiih" dan kamu hanya tertawa kecil. Temanku langsung menjerit menggoda, "Aaaa, dibawa ke KUA, daftarin nikahan!" 

Apakah kamu ingat dengan hal itu? Pasti kamu tidak ingat. Dan aku, entah kenapa bisa mengingatnya padahal saat itu aku belum ada rasa apa-apa sama kamu. Masih ada hal-hal kecil bahkan sepele yang aku ingat tentangmu, di awal kuliah tentunya. 

Beberapa bulan berlalu, lalu ada kegiatan kampus bernama "Capacity Building". Dimana kita harus menginap selama empat hari di perkemahan, tidur di dalam tenda, berkutat dengan lumpur dan kegiatan fisik lainnya yang dipandu oleh para Kopassus. Karena kegiatan itu, aku merasa diperhatikan olehmu. Kita yang sering berkirim pesan singkat. Kamu yang selalu berpesan agar aku jaga kesehatan, agar aku tidak pingsan. Ya, kamu sudah tahu aku mempunyai fisik yang lemah. Dan sebelum kita berangkat, ternyata kamu mengirimkan sebuah sms yang isinya juga sama. Menyuruhku jaga kesehatan, jika tidak kuat jangan dipaksakan agar aku tidak pingsan. Tapi pesan itu aku buka saat kita sudah pulang dari perkemahan. Aku sedikit kecewa, aku terlalu cepat berangkat jadinya tidak membaca sms-mu dulu. Di kegiatan itu kita tidak boleh membawa handphone. 

Saat kita semua berkumpul di lapangan sebelum berangkat ke perkemahan, aku mencarimu tapi aku tidak menemukanmu. Padahal kita ini satu kelas. Berbaris juga satu kelas. Tapi aku tidak melihat sosokmu. Aku resah. Sampai akhirnya kita semua berpencar mencari kelompok masing-masing. Selama kegiatan di perkemahan pun aku tetap mencarimu, tapi tetap saja aku tidak menemukanmu. Hingga akhirnya kita kembali ke kampus. Aku buru-buru turun dari bis, aku sudah jijik dengan tubuhku, ingin segera mandi. Empat hari di perkemahan aku tidak mandi. Tapi saat berjalan di dekat air mancur, aku melihatmu, kita berpapasan, aku sangat senang. Kamu mengomentari diriku, "Buluk banget sih.." Hanya aku jawab dengan "hehe" dan aku segera bilang "duluan ya". Aku pulang menuju kos dengan jalan cepat sambil menahan rasa senang tentunya. 

Sejak saat itu mulai tumbuh rasa simpati. Kita makin sering berkomunikasi, via sms tentunya. Tapi di kelas kita saling diam. Kita hanya sebatas teman kelas yang jarang mengobrol, bahkan tidak pernah. Aku malah lebih dekat dengan teman lelaki yang lain. 

Akhir 2013, aku mendadak menjauh darimu, menjadi sangat cuek padamu. Aku mengetahui satu hal tentangmu. Tidak, aku tidak boleh menjadikan rasa simpati ini menjadi rasa yang lebih dalam. Kecewa? Iya. Bahkan aku sampai menangis. Di setiap aku sedang nyaman dengan seseorang, ada saja hal-hal yang membuatku berhenti sampai disitu. Tidak boleh melanjutkan rasa. Aku bersalah jika kuteruskan. Lebih baik aku diam, aku mengalah. Tidak usah berharap terlalu tinggi. Nanti jatuh, sakit.

Menjadi dingin, cuek, dan tidak peduli. Menanggapimu seadanya. Singkat-singkat saja. Maaf, itu juga untuk kebaikan kita. 

Tanggal 15 Februari 2014. Entah ada angin apa, sejak hari itu, semua berubah. Berawal saat kamu menanyakan tugas kuliah. Kita asik berkirim pesan sampai larut malam. Aku jadi tahu tentang dirimu yang sebenarnya, sedangkan aku masih menutupi semuanya. Aku takut jika memiliki perasaan yang "sama". Aku membantah hatiku sendiri. Aku selalu bilang tidak. Aku tidak boleh menumbuhkan perasaan ini, sangat tidak boleh. 

Kamu yang sejak hari itu sering mengirimiku sebuah tulisan yang membuatku kaget, takut, senang, ah sepertinya semua rasa bercampur jadi satu. Aku berpikir, jadi selama ini kamu memperhatikanku? Kamu tahu detail tentangku, tentang kebiasaan yang aku lakukan di kelas. Seperti memutar-mutar bolpoin dengan jariku atau membenarkan kerudungku yang kadang maju ke depan. Aku tidak menyangka. Sejak hari itu pula, kita selalu tahu kabar masing-masing dari pagi sampai malam, dari bangun tidur sampai mau memejam mata. Komunikasi kita tak pernah putus. Ya, aku nyaman dengan keadaan itu, aku senang, aku bahagia, aku jatuh cinta.

Kamu terlalu pintar membuatku jatuh cinta padamu. Aku sudah tidak secuek dan sedingin dulu.
Aku kaget ketika kamu tiba-tiba bilang sudah ada di depan kost-ku. Aku degdegan, aku bingung. Aku mondar-mandir di dalam kamar, mengatur nafas. Aku segera turun untuk menemuimu. Ternyata kamu memang benar ada disana, sedang asik menghabiskan susu kotak sambil menungguku. Ah sosok itu. Aku makin dag dig dug. 

"Lama banget.." katamu.
"Hehe." Aku bingung mau menjawab apa.
"Nih buat kamu." Hah? Kamu memberiku bahan untuk ujian besok. Kamu tahu aku belum punya bahan yang itu, kamu memfotokopikan dan memberikannya padaku tanpa aku meminta. Masih hangat pula bekas fotokopiannya. Oh, Tuhan, perhatian sekali dia.
"Ya ampun kamu baik banget." Aku sangat senang. "Bentar ya aku ambil duit dulu buat ganti."
"Eh gausah gausah. Udah itu buat kamu. Dipelajari ya.."
"Ini serius?"
"Iya.."
"Makasih banget ya. Makasih. Baik banget deh.." Aku sungguh sangat senang.
"Yaudah, aku pulang dulu ya. Dipelajari beneran lho itu."
"Iya iya.. Makasih ya. Iih jam baru ciyee.." Mataku tertuju pada jam ditangannya, jam yang baru-baru ini aku lihat, berbeda dari jamnnya yang sebelumnya.
"Hehe. Udah lama ini kok.. Duluan ya.."
"Iya hati-hati."

Kamu hanya tersenyum dan berbalik. Memasukkan tanganmu ke saku jaket hitammu dan berjalan pulang. Ah, senyum itu, yang memunculkan lesung di kedua pipimu. Manis sekali. 

Liburan semester satu. Tiada hari tanpa ada kabar darimu. Saling berkirim foto masa kecil, bercerita kegiatan di setiap harinya. Aku makin nyaman denganmu. Perasaan ini makin lama makin kuat. Jatuh cinta, aku sudah lama tidak merasakannya. Dan ketika aku merasakan kembali, aku merasakannya denganmu. 

Liburan usai, waktunya kembali ke perantauan, kembali kuliah. Aku tidak sabar bertemu denganmu. Hari senin pagi di ruang komputer, aku tidak melihatmu, rupanya aku datang lebih dulu daripada kamu. Aku menghidupkan komputer dan asik mengobrol dengan teman-teman. Tak lama, kamu datang. Kamu duduk sebaris denganku terpisah beberapa meja. Lalu kamu menghampiriku, menanyakan keadaan komputer di sebelahku. Kamu mengeceknya. Di posisi sedekat itu, jantungku berdetak sangat kencang. Saat mata bertemu mata, ada hal yang tanpa dibicarakan pun kita sudah tahu. Bahwa kita ingin saling memiliki dan melengkapi. Kita saling jatuh hati.

Kita terus berkomunikasi, chatting sampai larut malam, membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan membicarakan hati kita masing-masing. Kita sudah tahu perasaan kita tapi aku yang masih ragu. 

23 Maret 2014, pagi hari aku sudah mendapat chat panjang darimu yang berujung pada "Siapkah kita menjadi sepasang kekasih?". Selesai membaca, air mataku jatuh. Ya, aku menangis. Aku bingung, aku ragu. Aku harus maju atau mundur. Harus iya atau tidak. Aku memilih diam. Tak mengindahkan pertanyaanmu. Membiarkan semua jadi gantung. Membiarkan kita tetap pada kondisi seperti kemarin dan kemarin. Di masa ini pula aku pernah berbohong padamu, maafkan aku. 

Akhirnya, bulan April 2014 hari kelima, Sabtu waktu Maghrib. Ketidakjelasan kita berakhir. Aku yang sedang asyik menikmati segelas jus mangga di kamar setelah lelah berbelanja, mendadak kaget dengan pesan yang kamu kirim. Kamu bilang kamu sudah di depan kos ku. Sebelumnya saat aku masih berbelanja, kamu sering tanya aku sudah selesai belanja atau belum, sudah sampai kost atau belum. Ternyata kamu mau datang, tapi untuk apa, menjelang maghrib begini pula. Aku segera menemuimu, aku masih berpakaian seperti saat aku belanja tadi, belum sempat beres-beres apalagi ganti baju. 

Kamu tersenyum, lalu berkomentar tentang pakaianku. "Rapi banget.."
"Hehe, iya.. Kan aku barusan keluar, belanja, jadi ya kayak gini." Jelasku padamu.
"Aku mau nyelesein pembicaraan kita yang belum selesai."
Apa maksudnya kamu berbicara seperti ini, aku takut, jantungku bergemuruh, aku tak tenang. Aku menundukkan kepala. Aku hanya menjawab, "Ya.."
Adzan maghrib berkumandang, kita diam berdiri di samping pintu pagar. Aku masih menundukkan kepala, sesekali melihatmu yang terlihat gelisah, tapi matamu tegas.
Mendengar suara adzan aku jadi lebih tenang.
Lalu kamu lanjutkan lagi pembicaraanmu dengan suara tenang, yang justru membuatku takut untuk menatapmu, lagi-lagi aku hanya menundukkan kepala.

Dan pada akhirnya aku hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Rasanya susah untuk bicara. Aku bahagia, ya bahagia karena bisa memulai janji untuk selamanya denganmu. Tak perlu penjelasan lagi bahwa kita sudah jelas malam itu. Entah apa hal-hal yang akan kita hadapi bersama, yang kulihat hanya hal-hal baik saat itu. 

Kita sudah ciptakan banyak cerita. Sembunyi-sembunyi dari temen sekelas, aku yang takut tidak nyaman saat di "cie" kan oleh teman-teman. Dan segala alasan yang aku tak ingin banyak orang tahu tentang kita. Berbeda denganmu yang sudah lebih dewasa dari aku, untuk apa kabar bahagia ditutupi. Ah, tapi aku juga malu saat itu.

Aku jadi teringat saat kita "taruhan" saat nonton pertandingan sepakbola di televisi. Tim yang aku dukung menang, begitu sebaliknya. Itu tandanya kamu harus membelikanku es krim. Ya, kamu menepatinya. Menjelang maghrib sepulang aku mengerjakan tugas di kos teman, kamu mengantarku pulang. Saat aku hendak masuk ke dalam kos, kamu mengeluarkan sesuatu dari tas mu. Es krim. Ya, lengkap dengan dua sendok kecil. Ternyata itu alasanmu membawa tas, untuk menyimpan es krimnya sebelum kamu beri kepadaku. Awalnya aku menolak, aku tidak mau menerima barang hasil taruhan karena haram. Aku tidak serius soal taruhan itu, hanya bercanda. Tapi kamu bilang bahwa kamu memang berniat membelikannya untukku, bukan sebagai hukuman kalah taruhan. Seharusnya kita bisa menikmati es krim itu berdua, tapi sudah maghrib ternyata, aku segera masuk dan kamu pun pulang.

Semua cerita tentang kita, satu pun, aku tidak bisa melupakannya. Terlebih saat kamu begitu mendukungku saat aku berada di titik terjatuhku. Tanpamu aku tidak bisa bangkit lagi seperti sekarang. Pertolonganmu, pengorbananmu, dan semua tentangmu begitu berarti dan berharga.

Tapi jika sudah terucap perpisahan, semuanya harus berhenti. Aku masih ragu. Tapi aku sudah tidak tahan.
Kini pun aku harus selalu menghadapi diammu. Aku hanya menginginkan kejelasan seperti saat dulu kamu menginginkannya dariku. 

Perubahan pasti ada, perpisahan pasti terjadi.
Sejujurnya, sungguh aku tidak ingin. Sangat tidak mau.
Aku hanya perempuan yang mencintai laki-laki yang terus saja diam. Aku ingin kita selalu baik, sebagai apapun itu.
Sekali lagi, aku masih mencintaimu. Sama seperti dulu. Bahkan sekarang sudah lebih dari yang dulu.
Yogyakarta, 15 Agustus 2015 | 12:29
Aulia RA

Izinkan Aku, Cinta

Posted by Aulia RA , Sunday, 26 July 2015 22:39

Laki-lakiku yang tercinta,
Kamu adalah kado spesial dari Tuhan
Kejutan tak terduga dariNya
Maka, izinkan aku menjadi hari ulang tahunmu
Dimana kamu selalu mengingatku
Kamu selalu membisikkan doa terbaik
Dan aku akan menjadi suatu permulaan baru yang takkan pernah berakhir
Yang akan selalu memberikanmu kado dan kejutan manis

Laki-lakiku yang tercinta,
Bahagiamu adalah bahagiaku
Senyummu adalah bahagiaku
Air matamu adalah lukaku
Maka, izinkan aku menjadi ibu peri bagimu
Agar aku bisa mengabulkan keinginanmu,
Menghapus semua laramu,
Menghiburmu,
Membuat kamu tersenyum selalu
Sehingga kita hanya merasakan satu hal,
Bahagia

Laki-lakiku yang tercinta,
Baktimu pada yang melahirkanmu sangatlah besar
Hormatmu pada yang menafkahimu sangatlah besar pula
Dan sayangmu pada yang sedarah tak akan pernah putus
Maka, izinkan aku mendampingimu
Bukan merebutmu dari keluargamu

Laki-lakiku yang tercinta,
Mimpimu belum terwujud
Perjuanganmu belum berakhir
Pun kehidupan masih berjalan
Maka, izinkan aku menjadi anak tangga bagimu
Yang membawamu menuju puncak kesuksesanmu
Membawamu ke depan pintunya
Dan menjadi kunci untuk membuka pintunya
Lalu, tinggal kamu nikmati hasil kerja kerasmu

Laki-lakiku yang tercinta,
Aku tahu kamu sangat lelah
Hari-harimu kadang membuatmu penat
Kesibukanmu, pekerjaanmu
Maka, izinkan aku menjadi rumah bagimu
Menjadi tempatmu pulang
Menghilangkan segala penat dan lelahmu
Melupakan sejenak tentang kesibukan dan pekerjaanmu
Aku menjadi satu-satunya tangan tempatmu menyisipkan jari
Satu-satunya kening untuk kecupmu
Lalu, kamu benar-benar istirahat di rumah itu
Kamu mendapat kehangatan di rumah itu
Tapi jangan lupa, kamu adalah pelindung utama rumah itu

Laki-lakiku yang tercinta,
Izinkan aku menjadi surga bagimu



Parakan, 26 Juli 2015
- Aulia RA

Note: Tulisan dari tumblr saya (ririsaulia.tumblr.com)

Kepada Orang yang Baru Patah Hati

Posted by Aulia RA , Saturday, 16 May 2015 13:09



Kepada orang yang baru patah hati
Persilahkan dirimu bersedih
Orang-orang punya pandangan yang aneh tentang bersedih
Seakan-akan bersedih adalah hal yang tabu
Seakan kamu harus buru-buru tertawa setelah hal buruk menimpa
Tapi tidak
Seperti hujan di tepi senja, kamu harus membiarkan setiap sendu yang ada
Setiap kematian butuh peratapan
Begitupun cinta yang telah mati
Maka lakukanlah apa yang orang patah hati lakukan
Menangis hingga kamu tidak bisa mendengar suaramu sendiri
Makan coklat sebanyak-banyaknya
Mandi air panas hingga jarimu pucat
Pergi ke cafe dengan tatapan nanar
Pesan satu buah es teh manis
Karena kopi mungkin terlalu pait untuk diminum di saat seperti ini
Izinkan lah dirimu bersedih
Menangislah seakan ini terakhir kalinya kamu dikecewakan seseorang
Menangislah seakan kamu lupa cara nya berharap
Kepada orang yang baru patah hati
Setelah kamu bosan bersedih
Inilah saatnya kamu mengangkat dirimu kembali
Mulai dengan hal yang mudah
Kamu bisa mulai mencoba mengambil gitar
Dan mengambil nada-nada mayor yang bahagia
Ambil piano dan bermain soneta yang indah
Atau jika kamu tidak bisa bermain musik
Lihatlah dirimu di depan cermin dan bersenandunglah
Lalu diantara nada-nada itu bisikkan kepada dirimu sendiri
“AKU PANTAS UNTUK BAHAGIA”
Kepada orang yang baru patah hati
Selalu ada teman untuk menemani kamu
Pergilah bertemu temanmu
Tertawalah sampai lupa waktu
Tanyakan kabar teman yang lain
Pamerlah keberhasilan mu
Dibidang-bidang yang kamu suka
Dan jika memungkinkan nongkronglah sampai kamu diusir dari tempat itu
Emang sih kenangan terhadap dirinya kadang masih sering mengganggu
Tempat yang pernah kalian datangi tidak akan terasa sama
Teman yang belum tahu mungkin akan menghampirimu dan bertanya
“Si dia mana ya?”
Yang kamu akan balas dengan senyum tipis
Entah bagaimana menjawabnya
Tapi percayalah satu hal
“SEMUA INI AKAN BERLALU"
Sama seperti hal lain di dunia
Semua hal buruk pasti akan beranjak pergi
Hujan pasti akan terganti langit biru
Gelap pasti terganti terang
Dan luka pasti terganti dengan senyuman tipis di bibirmu
Kepada orang yang baru patah hati
Bersabarlah
Karena di setiap gelap ada cahaya kecil
Karena di setiap sakit ada pembelajaran
Karena kamu
“PANTAS UNTUK BAHAGIA KEMBALI”


-Raditya Dika

Terimakasih

Posted by Aulia RA , 08:27

"Selamat tidur, ya. Jangan lupa berdoa. Besok kalau udah bangun langsung kabarin aku supaya aku telepon."

Kalau ditanya siapa yang paling rindu membaca kalimat di atas, aku berani bersumpah demi apapun bahwa aku sangat ingin kita seperti dulu lagi, sehangat dulu lagi, dan seindah dulu lagi. Tapi, keadaan telah berubah, aku harus membiasakan diri untuk terlelap tanpa membaca chat-mu. Aku harus tidur tanpa berharap besok kamu akan menelepon dan menghubungiku.

Berat. Tapi harus aku jalani. Hidup berjalan ke depan bukan? Dan, aku ingin keluar sebagai pemenang, bukan pecundang.

Terima kasih untuk segala kenangan. Terima kasih untuk banyak pelajaran. Perlahan aku akan segera melupakanmu dan mencari penggantimu.

DD, 16/05/15

Pulanglah

Posted by Aulia RA , Saturday, 2 May 2015 00:03

Aku merindukannya. Ya, aku sangat merindukan lelaki itu. Seorang lelaki yang telah membuat aku mempertaruhkan masa depanku padanya. Karena aku percaya dengan dia. Masa depanku adalah masa depannya. Perjuanganku adalah perjuangannya. Seperti yang dia katakan dulu kepadaku.

Aku memang salah, aku telah melanggar janjiku sendiri untuk tak menjalin hubungan dengan seseorang. Apakah aku bodoh? Ah, aku rasa tidak. Aku hanya tak ingin menyia-nyiakan kehadirannya. Lelaki hebat seperti dia, lelaki pemberani, sifat yang aku temukan pada sosoknya. Lelaki yang pantas untuk menjadi masa depan, lelaki yang cukup dewasa, kebapakan, dan terkadang manja laiknya anak-anak.

Aku tak memiliki kriteria khusus untuk seorang lelaki, jika cinta ya sudah tidak memandang apapun, kan? Hanya menerimanya apa adanya. Dialah lelaki yang aku impikan, aku ingin dia mengajakku menua bersamanya, sampai hembus nafas terakhir, hingga raga tak lagi mampu berbuat banyak. Lelaki yang ingin aku jadikan sosok ayah untuk anak-anakku. Lelaki yang ingin kujadikan pemimpin untuk keluarga kecilku.
Aku sadar, dirinya bukan sepenuhnya milikku. Bahkan, dia belum sah jadi milikku. Dia masih seratus persen milik keluarganya, aku bukanlah prioritas pertama di hidupnya. Bukan aku saja yang merindukannya, orang-orang terdekatnya pasti sangat merindukannya. Canda tawanya, perhatiannya, leluconnya, pun marahnya aku sangat rindu.

Saat ini aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya erat dan memastikan keadaannya. Walau aku tahu dia baik-baik saja, aku ingin bertemu dengannya.
Aku harap setiap pagi datang dia kembali pulang. Pulanglah sayang, aku ingin kau kembali pulang, aku tak ingin semua mimpiku hanya menjadi pemanis dalam tidurku.[]

Parakan, 1 Mei 2015 | 23:58
Aulia RA

Kotak Sepatu

Posted by Aulia RA , Wednesday, 29 April 2015 03:16

Aku masih ingat betul dengan hari itu, dengan kejadian itu. Aku memang seorang pelupa, tapi untuk hal itu, Tuhan mengijinkan otakku merekamnya dengan baik dan menyimpannya dalam kemasan memori paling manis. 

Aku kira tak akan ada masa-masa seperti sekarang jika tak ada masa yang dulu. Kita melewati masa demi masa, waktu demi waktu, demi suatu tujuan yang entah apa. Tuhan masih merahasiakan. Pun malaikat malu untuk memberitahukan pada kita. Ah, dia hanya berpura-pura malu saja, padahal memang enggan untuk mengatakan. 

Segala kebetulan yang kutemui dalam perjalanan hidup ini, aku rasa itu bukan 'kebetulan'. Menurutku tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, kebetulan yang hanya kebetulan. Sejatinya kebetulan-kebetulan itu bernama takdir. Bukankah Tuhan sudah menggariskan hidup seseorang sebelum ia lahir di dunia? Takdir itu ada yang sudah mutlak tak bisa diapa-apakan lagi, tinggal menjalaninya saja. Dan ada pula takdir yang masih bisa kita perbaiki, kita rubah, selama kita mau berubah. Aku jadi ingat perkataan Tuhan, "Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaumku, jika mereka tak mengubah keadaan kaumnya sendiri", yah intinya begitu. Asal manusia mau berusaha, Tuhan akan mengabulkan. 

Aku pernah putus asa dengan takdir. Aku membenci takdirku. Aku mengutukinya. Bahkan aku pernah benci dengan Tuhan. Oh, Tuhan, maafkan aku. Aku hanya tak bisa terlalu sulit. Aku merasa segala perjuangan dan pengorbananku tidak menghasilkan apa-apa. Nol besar. Hingga akhirnya aku sadar bahwa Kau menginginkanku untuk lebih sabar. Jika batas kemampuan orang lain dalam menghadapi ujian adalah 10, maka Kau berikan ujian padanya sampai skala 7. Sementara batas kemampuanku adalah 100, maka Kau memberiku ujian sampai skala 99. Kemampuanku diatas orang lain, kesabaranku lebih dari orang lain, Kau memberiku lebih dari orang lain. Tapi Tuhan, ijinkan aku mengeluh kepadaMu. Aku capek, aku lelah, aku jenuh.

Lagi-lagi aku menyadari bahwa yang kupikirkan bukan hanya diriku yang sedang lelah ini. Ada orang yang harus selalu aku perhatikan, aku pandangi, aku rawat, aku awasi, aku ajari, aku bahagiakan, aku sayangi, dan semua itu aku lakukan dari jauh. Orang itu salah satu tokoh dari kepingan puzzle masa laluku. Tokoh yang membuat aku selalu ada dan karena dialah aku mampu berdiri sebagai pemeran utama. Aku ingin tokoh itu selalu menjadi bagian dari setiap keping puzzle yang aku rangkai. Biar aku tetap jadi tokoh utama yang mengatur kemana jari ini akan meletakkan keping demi kepingnya.

Namun ketika semua tampak rumit dan gantung, aku tak tahu harus bagaimana selain diam. Oh Tuhan, aku bingung. Banyak yang aku inginkan, banyak hal yang kupinta darinya. Ini yang selalu menjadi konflik. Saat yang kuinginkan berbanding terbalik dengan yang dia beri. Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Wajar jika aku berkeinginan dan wajar pula dia yang tak mampu turuti inginku. Tetapi aku ingin seperti yang lain, Tuhan. Apakah aku salah? Aku rasa ini sederhana. Aku ingin membuatnya berbanding lurus. 

"Ini mau diletakkan dimana?"
"Biar disini saja." Jawabmu. 

Rasa-rasanya, semua ingin aku simpan rapat-rapat dalam kotak itu. Biarlah tak nampak lagi karena tertutup debu dan kelihatan mengenaskan di pojok ruang sana. Ah, perasaan ini, makin hari makin jadi, makin rumit dan tak karuan. Bosan dan jenuh yang makin liar, gerakannya tak dapat aku kekang. Tapi ia tak bisa lari, karena tidak ada yang membawanya pergi. 

Kamu dari masa laluku, sekarang, dan nanti, asal kamu tahu, aku (masih) menunggumu. 



Parakan, 29 April 2015 | 03:47
Aulia RA

Kepada Kamu dari Hati yang Selalu Menunggumu

Posted by Aulia RA , Wednesday, 15 April 2015 20:32

Kepada kamu...

Ada yang bilang,
"Mencoba mendidik cinta dengan jarak dan mengajar sayang dengan waktu, agar ia berujung pada keikhlasan.
Belajar memiliki dengan berserah, berdekatan melalui jauh, dan berharap semuanya semakin jernih.
Mari salahkan jarak yang mengundang rindu, yang salah bila dipendam, dan bertambah bila dipandu.
Kita memang yang lemah ketika berhadapan dengan rasa, namun itulah indah dan pertanda kita masih manusia.
Tak banyak waktu bisa kuberi, namun satu hal yang bisa aku janji, apa yang ada padaku pasti aku bagi.
Wajar ada jumpa ada pisah, bukan dunia yang masalah, tapi surga yang jadi arah.
Semoga setelah ujian ini kita semakin bernilai dan terhadap kewajiban-kewajiban kita tak lalai.
Jangan tanyakan apakah ini perjumpaan terakhir kali, yang kita tahu pasti hanya padaNya semua akan kembali."


Disudut ruangan ini aku menangis tiap malam. Ketika aku mengingatmu, ketika rindu yang semakin lama semakin menyiksaku. Ketika aku terus menunggumu. Yang semakin larut semakin menyesakkan. Dan aku hanya bisa berharap dan berharap, aku masih memiliki sedikit waktu untuk merasakan dirimu, dirimu yang nyata. Bukan dirimu di dalam mimpiku dan di dalam bayanganku saja. Aku tak mau. Aku ingin lebih dari itu. Wujud yang tiga dimensi, bukan dua dimensi. Wujud yang sama seperti diriku. Manusia. Manusiamu.

Maaf, aku manusia, aku punya keinginan. Aku boleh kan menginginkanmu?

Lalu kepekatan rindu itu mengantarkanku pada keadaan bernama jenuh. Aku jenuh, benar-benar jenuh. Aku tidak sabar menghadapi ini. Maafkan aku.

Sabar, percaya, ikhlas, adalah hal yang sangat sulit buatku. Sekolah pun tak cukup mengajari ini. Kehidupan lah yang mampu. 

Melewati berbagai ujian di hidup, sepertinya sudah aku lakukan beberapa. Dan sekarang adalah proses dari ujian yang lain. Kamu mau membantuku melewati ini, kan? Aku tidak bisa melakukannya sendirian, aku butuh kamu. 

Belajar, belajar, dan belajar. Itu yang selalu aku lakukan sampai saat ini. Pun ketika aku jatuh, aku bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi, lagi-lagi aku jatuh, lagi-lagi aku bangkit, begitu seterusnya. Karena hidup memang begitu.

Aku berjanji padamu, aku akan membagi semuanya kepadamu. Tak usah khawatir. Sekarang aku masih mencicil sedikit demi sedikit apa yang hendak kubagikan. Akan tiba waktunya nanti saat semua aku bisa berikan kepada kamu. Yang sabar, ya?

Diatas langit masih ada langit, apalagi yang namanya manusia akan selalu memandang yang ada diatasnya. Banyak yang lupa untuk memandang ke bawah, terlebih untuk bersyukur. Bersyukurlah dengan apa yang sudah kamu miliki sekarang. Nafsu tak ada habisnya, hati yang bisa membatasi. 

Hanya rasa syukur yang menghentikan pencarian dan cukup dengan mengembangkan apa yang sudah dimiliki. Sekali lagi, tak banyak hal yang kupinta, cukuplah berhenti disini dan tetaplah menyisipkan tangan di jariku untuk kembali. Jadikan aku surga yang selalu kamu rindukan.

Aku mencintaimu. Selalu.
Kepada kamu dari hati yang selalu menunggumu, mengharapkanmu, dan mencintaimu.[]

Parakan, 15 April 2015 | 20:28
Aulia RA

8760 Jam

Posted by Aulia RA , Sunday, 5 April 2015 22:40

Aku membayangkanmu sudah menungguku diluar, menjemputku. Lalu kamu memanggil namaku dengan suara khasmu. Suara yang telingaku sudah berteman akrab namun begitu kurindukan. Satu hal yang aku lakukan saat itu,tersenyum lebar kepadamu, ingin memelukmu tapi aku malu. Tatapan yang menusuk, jemari tangan yang menghangatkan. Seketika sirna penat seharian.

Aku membayangkanmu sudah berada disamping ranjangku, membangunkanku. Aku tak mau bangun, berat rasanya untuk membuka mata. Selimut masih melekat, bantal guling pun menggoda untuk dipeluk. Namun, belaian tanganmu di rambutku dan kecupmu di keningku laiknya sihir yang langsung membuatku terjaga. Dirimu, mentari pagiku, tersenyum manis seraya berkata "selamat pagi".

Aku membayangkanmu membawakanku sekotak coklat. Kamu menantangku berlomba. Siapa yang memakan potongan terakhir, dia yang akan menang. Aku masih mengunyah potongan coklat, sementara tanganmu telah siap mengambil sepotong yang terakhir. Aku pasrah sambil menelan kunyahan coklat. Potongan terakhir sudah ditanganmu, tetapi kamu suapkan kepadaku. "Yeey, kamu menang!", serumu. Aku cemberut namun segera berubah menjadi tawa kecil.

Aku bahagia melihat mereka sering bersama. Memasang foto bersama, bertualang bersama, dan hidup bersama. Itu bukan picisan tapi sebentuk kebahagiaan. Mungkin tak ada yang bisa membuat begitu bahagia selain kebersamaan. Tak ternilai, saking mahalnya.
Jam terus berganti. Dapat kudengar suara detiknya. Hingga 8760 jam, hal yang kubayangkan adalah semu. Tak ada sambutan, tak ada ucapan, tak ada perkataan. Tetes air mata mengiringi pergantian tiap detiknya.


Kepada kamu dari hati yang masih bertahan.





Parakan, 5 April 2015 | 23:23


Aulia RA

Firasat

Posted by Aulia RA , Saturday, 21 March 2015 02:11

Aku tidak sabar menunggu datangnya hari ini, hari yang kamu janjikan. Hari yang menjadi pertemuan aku dan kamu setelah lama tak bertemu, menahan rindu. Pertemuan nanti adalah ritual melepas kangen, merasakan kembali aroma tubuhmu, hangat pelukmu, dan mesra kecupmu.

Kukayuh sepeda tua kesayanganku menuju tempat pertemuan kita. Sebuah tempat dimana disitu ada danau yang tidak begitu besar, di sekelilingnya ada berbagai macam pepohonan, bunga ester dan bunga lili. Aku ingin impian kita terwujud, untuk bisa membeli tempat ini, lalu kita bangun rumah kita. Aku juga ingin membangun rumah pohon di salah satu pohon-pohonnya. Anak-anak kita pasti senang sekali, berlarian di tanahnya yang coklat, memancing ikan dan bermain-main di danaunya. Udaranya segar, sejuk, anginnya berhembus lembut. Aku ingin segera tiba saat itu, kita yang selalu mesra, anak-anak yang selalu bahagia, disana, rumah kita. Masa depan kita.

Aku tidak bisa membayangkan apa saja yang berubah dari kamu. Atau masih sama saja seperti dulu? Kulit coklatmu, kumis tipismu, mata tajammu, alis tebalmu, dan ah, semuanya yang tak akan aku sebutkan. Serta segala yang ada pada dirimu, yang mungkin telah berubah. Kamu tahu? Jerawat bandel di pipi kiriku sudah hilang, dan rambutku sudah bertambah panjang. Aku suka dengan rambutku yang hampir sepinggang ini, tapi ujungnya  aku potong sedikit, biar kelihatan rapi waktu ketemu kamu.

Di keranjang di belakang sepedaku, aku membawakanmu sesuatu yang kamu pasti sangat suka. Kubawakan makanan favoritmu, nasi goreng, kamu pasti belum sarapan. Sekarang nasi goreng buatanku sudah enak, tidak seperti dulu lagi, semoga kamu suka. Nanti kita makan bersama disana. Teh manis hangat juga akan membuat dirimu lebih baik kan di pagi ini? Aku juga membawa cemilan untuk menemani kita mengobrol nanti. Sudah seperti mau piknik saja ya aku ini, hehe. Oh iya, selain itu aku juga membawakan hadiah buat kamu. Buku favoritku, yang aku ingin sekali kamu membacanya, semoga kamu ada waktu luang untuk membaca buku ini ya. Dan sebuah hadiah satu lagi yang kamu akan tahu isinya saat kamu membuka bungkusannya, dan semoga kamu terkesan.

Hari ini, Sabtu pukul delapan pagi. Sungguh, aku sangat tidak sabar. Kukayuh sepedaku lebih kencang.

***

Akhirnya, aku sampai juga di tempat favorit kita, tempat pertemuan kita.

Namun aku belum menemukan sosokmu disana, diseberang danau hanya ada ayah dan anak sedang memancing. Kulirik arlojiku, masih menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Ah, kamu selalu begitu, datang tepat waktu, jika tidak ya terlambat. Oke, kali ini aku menang dari kamu, aku datang lebih dulu.

Rasanya aku sudah lama sekali tidak merasakan keindahan tempat ini. Tempat yang selalu memberikan inspirasi untuk menulis atau menggambar. Untung saja buku sketsa ini selalu aku bawa, jadi sembari menunggumu aku akan membuat gambar ilustrasi ayah dan anak yang memancing disana.

Menggambar selalu membuatku lupa waktu, dan ternyata saat ini sudah pukul sembilan. Benar-benar tak terasa. Dan kamu belum juga datang, aku khawatir. Tidak mungkin kamu lupa dengan janjimu sendiri. Janji yang kamu tulis dan kamu kirimkan kepadaku 5 bulan lalu. Dan tidak mungkin kamu tega membatalkan janji  ini tanpa memberitahuku sebelumnya. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu kuputuskan untuk tetap menunggumu. Mungkin kamu ada sesuatu yang membuatmu terlambat datang, atau halangan yang lainnya. Tak dapat kusangkal aku sangat khawatir. Apa kamu mengerjaiku saja? Cuma mempermainkanku? Aku coba tetap berpikiran jernih.

Aku berjalan-jalan mengelilingi danau, memetik beberapa bunga. Nasi goreng dan tehnya sudah tidak hangat lagi. Ayah dan anak tadi sudah beranjak meninggalkan dermaga di pinggiran danau. Aku duduk disana, melamun. Membayangkanmu sudah berdiri dibelakangku lalu memanggilku. Dan ketika aku tahu kamu sudah disini, aku akan langsung memeluk erat dirimu. Namun itu hanya khayalanku saja. Tak pernah terjadi. Air mataku menetes.

Matahari sudah berada diatas kepala, menyengat tubuhku. Aku masih saja terduduk disini, tak peduli sengatan matahari, aku akan tetap menunggumu disini. Biarlah air mataku menetes dan bercampur dengan air danau, biarlah, aku tidak peduli, akan tetap menunggumu disini. Biarlah aku sendiri disini, mati disini, aku tak peduli, aku akan selalu dan tetap menunggumu disini. Sampai kamu datang. Itu bukti kesetiaanku, jika kamu menanyakan.

***

Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari

Ketika menghangatkan tubuh dan aku menengok ke atas, kulihat awan membentuk wajahmu. Sang bayu membisikkan namamu.  Pun ketika malam,bulan sabit yang kulihat bahkan melengkungkan senyummu. Gemintang, konstelasinya, menjadi kamu. Semua yang kulihat, seolah-olah adalah dirimu. Aku ingin memandang bulan bersamamu, sesuatu yang sudah lama tak aku dapatkan. Aku ingin menggapai awan dan bulan itu, menggapaimu.  Ah, tetapi itu tak nyata,itu hanya khayalan.


Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Kutahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu sayangku

Kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli, kuterus berlari

Apa itu firasat? Firasat adalah cara alam berbicara kepada kita. Tapi saat itu kita tidak dapat memahami padahal kita semua bisa berdialog dengan semesta. Karena dari mulai berbicara, kita hanya mengenal bahasa manusia bukan bahasa alam. Kadang aku tak tahu, mana yang firasat mana yang bukan. Mana yang firasat mana yang pertanda. Yang kutahu, aku hanya rindu kamu. Semoga selalu ada waktu. Waktu untuk bertemu kamu.


Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi

Dan lihatlah sayang
Hujan terus membasahi seolah luber air mata

Cepat pulang, cepat kembali,  jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Ku hanya ingin kau kembali
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi

Aku pun sadari
Kau takkan kembali lagi

Cintaku, aku ingin kamu cepat pulang. Aku sangat rindu, rindu kamu. Cepatlah, aku tak sabar. Aku tak bisa sabar jika semua itu tentangmu. Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku. Biarkan aku disampingmu. Biarkan aku bersamamu. Mendampingimu dan hidupmu. Biarkan aku.
Hanya air mata yang berderai, mengalirkan pertanyaan, “Akankah kamu kembali?”

***

Siang, panas. Malam, gelap. Hujan, dingin. Aku tak peduli. Aku akan disini sampai kamu datang. Aku akan pergi meninggalkan tempat ini bersamamu. Bersamamu.
Biarlah aku sendiri disini, mati disini, aku tak peduli, aku akan selalu dan tetap menunggumu disini. Sampai kamu datang. Itu bukti kesetiaanku, jika kamu menanyakan.

***

Itu hanya firasat. []







Parakan, 21 Maret 2015


Aulia RA

Pergi Saja (2)

Posted by Aulia RA , Tuesday, 17 March 2015 10:24

Ternyata sudah selama ini aku membohonginya. Menyembunyikan apa yang dihati dan juga tak kunjung mengutarakan isi hati. Semoga aku kuat menyimpan di hati yang mungkin sampai mati. Aku hanya tidak ingin menyakiti.

Tetapi ketika aku berpikiran demikian selalu ada bisikan-bisikan yang mengatakan bahwa aku harus bergerak. Berusahalah, berjuanglah, dan bergeraklah untuk mendapatkannya, jika tidak kau akan menyesalinya seumur hidup, bisikan ini selalu menghantui. Apa iya aku harus mendekatinya lantas mengutarakan isi hatiku? Tidak, tidak. Ah,tapi mungkin aku memang harus mencobanya.

Aku rasa ini akan menjadi susah. Untuk menyapanya saja, sekadar bilang "hai" saja tidak bisa,bibir ini kelu, seperti ada yang menahan. Aku menjadi pesimistis. Aku belajar untuk menerima setiap kejadian yang terjadi, termasuk kejadian aku menjadi kaku didepannya. Tak mungkin lah aku dapat mengenalnya lebih dalam bahkan sampai memilikinya.

Aku hanya bisa menunggu, menunggu waktu yang tepat. Mungkin aku mengungapkannya bersamaan dengan kedatangan rombongan keluargaku ke rumahnya. Ya, aku memang seserius itu, aku sudah dewasa. Aku benar-benar ingin memilikinya sebagai pendampingku, sebagai seseorang yang akan aku ajak ke surga. Aku sudah berniat baik, cukuplah untuk menambah catatan amalanku, dan semoga pula Tuhan memberikan cara aku dan dia akan bertemu, bertemu sebagai sepasang yang selama ini sedang mencoba untuk saling menemukan.

Tuhan sudah menjanjikan, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya. Tugasku hanya menunggu sambil terus memperbaiki diri. Apakah iya aku sudah pantas mendampinginya? Menjadi pemimpin sekaligus pelindung buatnya? Belum. Aku masih nol besar soal ini.

Yang selama ini jadi pertanyaan, yang membuatku penasaran setengah mati, apakah dia juga memiliki perasaan yang sama denganku? Oh, andai aku bisa menanyakannya segera. Tapi aku terlalu takut dengan jawabannya. Aku takut jika dia menjawab tidak. Apa yang harus aku lakukan? Berhenti dan meninggalkannya? Berhenti berjuang untuknya? Entahlah. Tapi hati berkata bahwa aku harus terus berusaha untuknya.

Tuhan memang Maha Membolak-balikkan hati. Yang awalnya cinta menjadi tidak cinta. Yang awalnya peduli tiba-tiba jadi benci. Dalam sekejap, hati manusia bisa saja berubah. Aku tak bisa menyangkal, itu sudah kodrat manusia. Jika iya dia mencintaiku, bisa saja beberapa hari kemudian cinta itu hilang. Aku sangat takut. Aku takut kehilangan cinta dari orang yang aku cintai.

***

Senja ini, akan menjadi saksi akan keberanianku. Aku sudah melawan semua pikiran buruk. Aku tidak membiarkan mereka menang, ini akan menjadi takdirku. Tuhan, kuatkanlah aku. Aku sudah berniat baik, ini untuk diriku, kehidupanku, dan masa depanku.

Dengan kemantapan hati yang sudah aku bangun berbulan-bulan, aku melangkahkan kaki untuk menemuinya. Berharap semua akan baik-baik saja, pun aku berharap akan lebih baik dari yang terbaik. Dia, seseorang yang aku cintai, pandangannya sangat teduh, wajahnya sungguh menenangkan hati. Itulah yang dinamakan kecantikan diri, cantik yang tanpa dibuat-buat, murni tanpa kepalsuan dan topeng. Aku yakin dialah bidadariku yang Tuhan janjikan, dialah pendampingku di dunia dan di surga. Semoga, semoga akan selalu begitu.

Semakin dekat dengannya, langkahku semakin lambat. Detak jantungku yang semakin cepat. Rasanya tubuhku sudah basah oleh keringat dingin. Sanggupkah lidahku berucap? Oh Tuhan, kuatkanlah diriku. Dia, sekarang hanya satu depa didepanku.

"Hai." Aku berhasil menyapanya. Oh, Tuhan.

"Eh, hai." Jawabnya lengkap dengan senyuman yang begitu manis.

Mata kami bertatapan sejenak, sungguh, sungguh ini membuatku lemas. Tapi, seperti ada sesuatu dimatanya. Mataku sudah berbicara dan matanya sudah menjawab. 

"Aku ingin bicara padamu sebentar. Bolehkah?"
Dia mengangguk.

"Sebelumnya aku mau minta maaf, aku mengganggumu. Tapi benar-benar ada yang ingin aku sampaikan. Biar aku tidak penasaran lagi."

"Iya, utarakan saja. Aku akan mendengarkan baik-baik."

"Selama ini, emm..selama ini. Begini, aku sudah yakin, aku sudah mantap, aku ingin mengajakmu ke surga. Bersamaku."

"Apa maksudmu?" Wajahnya terlihat tidak tenang.

"Aku mencintaimu, Naya."

"Tidak, tidak, jangan bercanda padaku." Jawabnya diiringi tawa yang agak sinis. 

"Serius, aku serius. Percayalah. Apa kamu tidak mengerti tatapanku? Mataku sudah berbicara, tidak bohong."

Dia hanya diam. Tak berkata apa-apa.

"Aku mencintaimu." "Aku mencintaimu, Kanaya."
Lama, dia hanya diam. 

"Pergi, pergi saja." Dia menatapku tajam. Lalu bergegas meninggalkanku.
Aku kejar dia, langkah kecilnya sangat cepat. 

"Hei, kenapa kamu meninggalkanku?"
Dia menghentikan langkahnya. "Aku mohon, pergilah." 

"Kenapa malah mengusirku? Kamu bahkan tidak menjawab soal perasaanku?" Aku tidak bisa menahan kekecewaan.

"Pergilah. Pergi saja. Aku minta kamu pergi."

Kami bertatapan lagi, sama-sama tatapan yang tajam. Ada sedih, ada marah, ada kecewa, dan ada ketakutan di mata itu.

"Oke. Jika itu yang kamu mau. Terimakasih."


Aku marah, aku kecewa. Rasanya seperti tidak ingin melihat wajahnya lagi. Wajah yang menyakitiku. Dirinya yang menghancurkan perasaanku. Senja ini memang menjadi saksi atas keberanianku. Keberanianku untuk meninggalkannya.[]






Parakan, 17 Maret 2015
Aulia RA


Bingung dan Benci

Posted by Aulia RA , Sunday, 15 March 2015 17:18

Aku sangat bingung dan benci.

Bingung, karena sebenarnya siapa yang berhak menunggu dalam urusan ini. Siapa yang sebenarnya tak sadar membuat ini menjadi tampak buram, tidak jelas, gantung. Hal ini bukan jemuran yang harus digantung dulu biar kering, bukan pula sepatu yang rela digantung saat pemain sepak bola kelas dunia dengan bermacam alibinya memutuskan untuk berhenti menggiring bola di tengah riuh rendah para suporternya. Bukan, bukan begitu seharusnya. Walaupun kau mau berkali-kali bilang entah sampai kapan harus menunggu, kau harus sadar bahwa kaulah yang aku tunggu. Kau harus memutuskan untuk berpihak pada siapa. Berpihak pada hatiku atau hatinya. Aku bingung, aku harus menanggapimu bagaimana sementara kau memiliki komitmen dengan pihak lain. Yang notabene lebih sulit ditunggu oleh orang yang sudah sepakat membuat komitmen dengan kita dibanding mencintai orang yang lainnya lagi. Dalam pertentangan dan persimpangan ini, aku tak tahu harus bagaimana.

Benci, karena terjebak dalam masalah ini. Masalah yang datang tak terduga, tak terencana sebelumnya. Lalu ia meletup bagai uranium, dan menguar bersama hilangnya oksigen suci di atmosfer. Menyapu seluruh jagad. Yang membuat aku berharap bahwa ini cuma halusinasiku saja. Namun saat aku cubit tanganku, aku merasakan sakit. Dan saat aku mengiris dadaku, aku merasa seperti ingin mati. Yang membuatku ingin memiliki mesin waktu, menelusuri sepanjang koridor dan lorong waktu dan akhirnya sampai sebelum ke masa ini. Masa dimana aku belum mengenal benci, waktu dimana aku belum merasakan perasaanku. Tapi apa mau dikata, aku tak dapat melakukannya. Karena semesta tak pernah membantuku dan jagad raya terlanjur ogah untuk jadi penolong. 







Bintaro, 7 Maret 2014


Aulia RA




p.s. judul sebenarnya adalah bingung, benci, dan muak

Salahkah Aku, Cinta?

Posted by Aulia RA , Tuesday, 10 February 2015 19:17




Cinta.

Banyak sekali yang bisa kita bicarakan mengenai benda bernama cinta. Hal menyedihkan, menyakitkan, pun membahagiakan dapat terjadi karena cinta. Siapa yang dapat menyangkal datangnya cinta ini? Tidak ada.
Cinta itu buta. Cinta itu gila. Cinta itu misteri. Cinta itu hina.

Akan aku ceritakan padamu tentang hal ini, Kawan. Buatku, cinta itu tega. Sangat sangat tega. Cinta sangat menyiksa. Bagaimana tidak? Cinta datang tiba-tiba, tidak memandang siapa yang akan ia datangi. Cinta datang begitu saja dan tidak gampang ia pergi. Kadang cinta tak datang di waktu yang tepat, sehingga ada seseorang yang tersakiti. Tak dapat kutampik pula jika cinta itu datang tanpa kesengajaan. Cinta itu tega tapi juga tidak sepenuhnya bersalah. Bahwa sebenarnya takdirlah yang membuat cinta hadir. Dari banyak kebetulan yang manusia alami, manusia tidak sadar bahwa kebetulan-kebetulan itu bernama takdir.  

Salah satu kebetulan bernama takdir itu adalah ketika kita mencintai seseorang yang sudah dimiliki orang lain. Ya, orang yang kita cintai ternyata mencintai orang lain. Betapa menyakitkannya kenyataan tersebut. Kita sungguh-sungguh ingin menampik perasaan itu. Namun, perasaan adalah perasaan. Kita tidak bisa membohonginya. Aku mencintainya, iya, memang itu yang aku rasakan. Berbagai pertanyaan muncul. Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa harus dengannya? Mengapa kenyataannya seperti ini? Sekuat tenaga kita mencoba lari dari kenyataan itu, tapi ia justru lebih kuat mengejar kita. Semakin kita tidak peduli padanya, semakin sulit untuk melepas. Rasanya sudah tak sanggup untuk pergi dari cinta. Ah, teganya cinta itu. Andai saja aku tak memiliki segumpal perasaan cinta ini. Aku tak akan merasa selemah ini. Gamang, bimbang, takut, kecewa, terluka, semua bercampur jadi satu. Melupakan seseorang mungkin tak sesulit melupakan perasaan. 

"Ketika kau jatuh cinta dengan orang yang sudah dimiliki orang lain, mengakui kenyataannya adalah menyakitkan. Semakin kau tahu berapa besar mereka saling mencintai, rasa sakit yang kau rasakan, dan itu akan lebih menyakitkan jika kau memilih untuk menjadi seorang pengalah. Kau harus menjaga dalam-dalam setiap perasaan, menunggu untuk melihat bahwa kau baik baik saja disini.

Lalu, salahkah?

Mungkin, itu hanya waktu yang tidak tepat yang kita miliki. Berjalannya waktu lambat laun mempertemukan kita nantinya. Kita bertemu pada waktu yang salah dan kaulah yang terluka."
Lagi-lagi, tidak ada yang dapat menyalahkan cinta. Cinta itu datang tiba-tiba, tanpa permisi, tanpa mengenal siapa yang akan ia datangi. 

Kita juga tidak bisa menyalahkan seseorang yang mencintai orang yang sudah dimiliki orang lain. Dia tidak tahu jika sudah ada yang memiliki, ataupun sudah tahu dan cinta yang datang tidak tepat. Entahlah. Susah untuk menyelesaikan perkara soal cinta. 

Saat mencintai seseorang kita hanya bisa memberi. Bukankah tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah? Terlebih untuk menerima, menerima setiap keadaan, entah itu menyenangkan atau menyakitkan. Lalu, kita hanya bisa menunggu. Menunggu sampai tiba waktunya kita akan dipertemukan dengan seseorang yang kita cintai dalam sebuah ikatan manis, lalu disebut sejoli. Namun, jika pada akhirnya kita tidak dipertemukan dengannya, kita harus mau menerima. Biarkan dia hidup bahagia bersama orang yang mencintainya dan kita senantiasa mendoakannya. Dalam proses menunggu itu, kita jatuh cinta sendirian dan menjaga cinta sendirian. Dengan harapan akan mendapat yang terbaik. Harapan untuk hidup bersamanya.
Cinta bukan soal memiliki atau tidak memiliki. Tapi cinta adalah soal menerima.




Parakan, 10 Februari 2014 ; 19:50
Aulia RA

Love is You

Posted by Aulia RA , Friday, 9 January 2015 21:51


Sometimes I might feel that I'll be happier alone
To think about love, somebody who cares about, somebody to share my joy
This time, I'll take a chance
Because I know, I'll never know
What I'll get someday
Until I have really tried to know you
More than just a friendship
So, if here (in my heart) somebody I miss
I tell him that I do.. I do miss that somebody
You know who the somebody that I mean?
Yes, it's true, that's you
And I'll take the time to know what red love is
Because only time is capable of understanding
How great love is
-naninani-
Temanggung, 9 Januari 2015
Aulia RA

Dari Kugy Kepada Keenan

Posted by Aulia RA , Tuesday, 20 May 2014 16:46

Hari ini aku bermimpi.

Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.
Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini,
aku merasa mimpiku semakin dekat.
Belum pernah sedekat ini.
Hari ini juga aku bermimpi.
Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.
Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini.
Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat,
segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar.
Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Selamat Ulang Tahun.

Dari Kugy Kepada Keenan
Perahu Kertas, Dee

Perahu kertasku kan melaju, membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi, cita-cita
Yang lama kupendam sendiri
Berdua, bisa kupercaya

Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku cintaku padamu

Kepada Seorang Lelaki

Posted by Aulia RA , 11:31

Kepada lelaki disana
Yang memandangiku dari sudut
Hati sudah bersambut
Tapi jarak masih terpaut

Kepada lelaki disana
Yang memandangiku dibalik punggung
Perasaan terus menggunung
Dan suara hati terus menggaung

Kepada lelaki disana
Yang memandangiku dari jauh
Kita adalah sepotong hati yang utuh
Untuk menyakitinya korbankan peluh

Kepada lelaki disana
Yang memandangiku dalam diam
Kita sekuat logam
Terus menguat walau sampai malam

Kepada lekaki disana
Yang memandangiku dari tengah keramaian
Aku dan kamu bukanlah suatu keanehan
Untuk selalu bergandengan

Kepada lelaki disana
Yang menjadikanku bunga tidurmu
Setiap hari kita bertemu
Tapi hanya sekali dalam seminggu

Kepada lelaki disana
Yang menyebut namaku dalam doanya
Tak perlu banyak tanya
Untuk yakin mencintainya


Kepada seorang lelaki, dari seorang kekasih yang menantimu di ujung jalan sana.



Bintaro, Selasa, 20 Mei 2104
11.30 a.m

-Aulia Wijanarko-


Dewasakan Aku, Cinta

Posted by Aulia RA , Sunday, 30 March 2014 10:51

Bismillahirrohmanirrohiim.

Kadang aku berpikir, mengapa aku dilahirkan seperti ini, mengapa tak seperti dia, dia, ataupun dia. Bukan. Bukan aku tak bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang. Aku hanya berpikir sejenak, merenungi apa yang ada di diriku dan hidupku. Aku percaya, setiap bayi yang dilahirkan di dunia ini pasti ada alasan untuk dilahirkan. Sampai nanti ia tumbuh dewasa dan memliki segala kekurangan dan kelebihan. Sebelumnya sudah tertulis jelas di kitab bernama Lauhul Mahfuz ini. Kapan matinya, siapa jodohnya, hidupnya akan bahagia atau tidak, dan semua takdir sudah Allah tetapkan untuknya. Aku hanya berpikir, apakah takdirku akan sama seperti dia? Apakah nasibku seperti dia yang lainnya, atau dia dia dia yang lainnya lagi? Ah, entahlah. Aku adalah seperti diriku yang sekarang ini. Seorang gadis yang beranjak dewasa. Yang sedang menikmati proses indah bernama pendewasaan.

Dewasa adalah ketika kita sudah merasakan patah hati. Premis ini tidak cukup kuat untuk menyatakan bahwa seseorang itu sudah dewasa saat ia pernah mengalami patah hati. Ya mungkin saja ada sebagian yang mengiyakan. Tapi jika saat patah hati ia justru galau berlarut-larut, memikirkan sesuatu yang tidak jelas, tiba-tiba menjadi cengeng, apakah ia layak disebut dewasa? Lantas, ada seseorang yang bilang, " Wah, berarti aku sudah sangat dewasa dong. Aku sudah berkali-kali patah hati." Tidak. Bukan seperti itu yang dimaksud. Jika patah hati sebagai tolok ukur, lalu orang yang belum pernah patah hati tapi ia mampu menghadapi segala persoalan hidup dengan ketegaran dan keikhlasan yang besar serta tanpa keluhan dalam menghadapinya, apakah ia bisa disebut belum dewasa? Yang bisa menentukan kita sudah dewasa atau belum hanya diri kita sendiri, bersama orang lain sebagai pengamat yang selalu memberi masukan untuk kita.

Don't judge a book by its cover. 
Kalimat ini sudah ada sejak dahulu kala. Bahkan (sempat) menjadi kalimat sakti. Namun, adakah seseorang yang benar-benar memaknai kalimat ini dengan benar? Yang mempraktekkan kalimat ini dengan benar pula? Tidak. Lebih tepatnya belum. Orang-orang belum mampu menanggapi kalimat ini seperti seharusnya kalimat ini ditanggapi. Mengapa aku membawa-bawa kalimat ini dalam urusan pendewasaan? Karena ini sangat berpengaruh dalam pendewasaanku.

Mungkin aku memang sebuah buku lusuh yang tak pernah terawat. Yang jika dilihat dari sampulnya saja orang takkan bergairah untuk memungutku dan menjadikanku sebagai buku bacaan. Meski masih baru sekalipun. Dan kini buku itu sudah koyak, sisinya sudah robek, banyak yang sudah dimakan rayap, berkutu, sangat menjijikkan. Tapi orang tak tahu yang sebenarnya dibalik sampul buruk tersebut. Sampul itu rela menjadi lusuh, dimakan kutu, robek, demi menjaga apa yang ada di dalamnya. Menjaga lembar demi lembar yang amat berharga. Menjaga cerita-cerita indah yang mengalun mesra saat diceritakan. 

Jika kembali ke realita, orang-orang melihat aku yang seperti ini, menganggap aku begini begitu. Tanpa tau aku yang sebenarnya. Hanya melihat dari "sampul"ku saja. Mungkin hanya beberapa orang saja yang tau aku yang sebenarnya itu bagaimana. Ya, orang-orang terdekatku. Tapi orang tuaku sendiri saja tidak cukup paham denganku. Padahal merekalah orang yang paling dekat denganku. Ah, entahlah. Aku hanya punya keluarga, sahabat dan teman yang (masih) mau menerimaku apa adanya dengan tangan terbuka. Aku hanya ingin menjadi sosok yang sederhana dan apa adanya. Aku tidak mau hidup terlalu ribet. Guruku pernah bilang, "Jangan mempersulit diri sendiri." Ya, aku coba untuk menerapkan kalimat guruku di hidupku yang cukup rumit ini. Sampai akhirnya aku sadar bahwa yang benar-benar dekat denganku hanyalah Allah dan diriku sendiri. Tak ada yang lain.


Kini, tibalah proses pendewasaan itu.
Aku sudah tidak asing lagi dengan benda bernama masalah. Dari ketika aku masih kecil sampai sekarang, masalah yang secara langsung menjadi milikku atau masalah orang lain yang menyeretku ke dalamnya. Aku bisa dibilang sudah cukup tahan banting dengan masalah, dengan cobaan. Masalah yang membuatku berprasangka buruk, akankah aku menjadi anak broken home. Masalah yang membuatku pesimistis, sanggupkah aku bertahan sampai nanti. Dan masalah yang goyahkan keyakinanku, akankah bertemu denganmu, cinta.

Setelah aku menutup hati untuk beberapa waktu yang cukup lama, kini saat aku buka ternyata ada yang hadir. Mungkin sejak beberapa bulan yang lalu. Dan dia yang kini datang untuk menuntut kejelasan dariku. Pun aku. Tapi, ada sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Kejelasan itu sendiri.

Aku hanya tak mau melanggar janjiku. Janji yang sejujurnya belum aku tanda tangani sendiri. Dulu, memang aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memiliki ikatan dengan seorang ikhwan kecuali dengan cara yang Dia halalkan. Aku tidak boleh melakukannya, sampai aku lulus sekolah menengah atas. Dan kini aku sudah di perguruan tinggi. Otomatis janji itu sudah habis masa berlakunya. Di masa ini aku sudah berniat untuk membuka hati bagi semua orang dan bagi cinta. Tapi tiba-tiba ada sekelebat pikiran, bagaimana jika janjiku aku teruskan saja. Jadi seumur hidupku aku tidak akan pernah merasakan ikatan itu. Aku tak tau akan berakhir bagaimana, aku akan menang atau kalah melawan ego ku. Dan jelas-jelas hati ini tak bisa bohong. Hati ini ingin saling memiliki. Hatiku miliknya dan hatinya milikku. 

Sisiku yang lain dengan tegas berbicara, "Uji saja dia! Jika dia benar-benar sayang kepadamu, suruh untuk menunggumu sampai 1 tahun mendatang, bahkan sampai 5 tahun atau 10 tahun lagi. Apakah yang ia rasakan masih sama seperti sekarang. Dia harus rela menunggumu, mengerti dan menghargai keputusanmu. Dan yang paling penting dia menghormatimu sebagai wanita yang ia cintai. Jika setelah itu dia jauh dari kamu, berarti dia bukan jodohmu. Kalau masih dekat, ya.. kamu dapat menyimpulkan sendiri lah. Sudah, tak usah diambil pusing. Bukankah semua sudah ditentukan sama yang diatas?"

Tapi jika tanpa ikatan itu, aku takut dia pergi. Apakah untuk menunjukkan kasih sayang kita harus dengan hal itu? Adakah cara yang lainnya? Aku tak tahu. Aku bingung. Aku hanya percaya dan mengikuti kata hatiku.

Belum lagi ada yang bilang, "Jangan jadi orang ketiga dong, dosa." Hatiku tersentak. Miris mendengarnya. Sungguh, aku bukan macam perempuan begitu. Sama saja aku dengan pelacur-pelacur di pinggir jalan sana. Entah itu berupa candaan belaka atau memang serius, aku tetap sakit mendengarnya. Dan, sungguh dia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. 

Cinta, mengapa kau begitu rumit?

Cinta, kau boleh menganggapku kolot, aneh, sok suci dan lainnya. Aku hanya berusaha untuk menjaga diriku sendiri. Aku tak mau terjebak dalam fananya nikmat dunia. Mungkin aku berbeda dengan orang di masa lalumu. Tapi inilah aku, aku yang kau kenal dan yang masih belum kau kenal sekarang. 

Ah, cinta memang misteri. Cinta memang abstrak. Yang jelas cinta ada di hati ini, dihatiku. Aku hanya ingin satu sampai mati. Aku tak ingin hatiku aku obral kemana-mana dan jatuh ke orang yang tidak tepat.

Masalah ini, aku harap dapat mendewasakanku. Aku harus bisa melewatinya dengan baik. Tanpa sandungan, tanpa keluhan. Aku mohon, dewasakan aku, cinta.



Bintaro, 30-03-2014


-Aulia Wijanarko-