Aku rasa semesta
begitu jahat kepadaku. Bagaimana tidak? Saking luasnya, dia tak memberiku
setapak yang kujejaki untuk menemukanmu. Ya, menemukanmu, menemukan dirimu yang
sesungguhnya. Semesta begitu besarnya sampai-sampai aku tak banyak tahu
tentangnya. Pun dirimu. Terkadang aku merasa asing denganmu. Lebih tepatnya
terasingkan barangkali. Tentang siapa dirimu, apa yang sudah kamu lalui, siapa
yang pernah menyenangkan hatimu, siapa saja yang pernah kamu bahagiakan, apa
yang tersembunyi dalam hatimu, dan tentang-tentang yang lainnya. Aku tak banyak
tahu. Aku ibarat noktah kecil yang tak berarti apa-apa. Mengganggumu. Aku tak
tahu, aku tak tahu banyak tentangmu. Kamu tersembunyi dalam persembunyianmu. Aku
takut.
Tanpa aku
mengatakan lebih dulu, kamu pasti tahu bahwa masa lalumu sangat menggangguku. Bukan
begitu? Apa kamu malah tidak tahu? Baiklah, akan aku jelaskan. Semua orang
punya masa lalunya masing-masing, aku tahu itu. Kamu. Aku. Masa laluku tak
lebih baik dari siapapun, aku juga membencinya. Tapi masa lalumu, aku lebih
membencinya karena dia mengganggu. Aku juga heran, mengapa aku tak mudah
menerimanya, sulit memaafkannya, barangkali karena aku sudah terlalu dan
terlanjur sakit hati, ya? Haha, itu bisa saja. Dari dulu aku tak pernah bisa
berdamai dengan ini. Maafkan aku.
Laiknya luka yang
disiram air garam, inilah kondisi hatiku saat ini, jika kamu ingin tahu. Satu kesalahan
dampaknya bisa sebesar ini ternyata. Hilangnya rasa percaya, makin seringnya
muncul keraguan, makin seringnya aku menangis sendirian, dan kebencian yang tak
kunjung hilang. Aku tidak nyaman dengan itu semua. Tapi kamu ingat, kan, siapa
dalang dibaliknya? Haha. Ironi.
Aku bisa apa. Jika
tiba-tiba kamu merindukannya, aku tahu, rasa kangen pasti pernah muncul. Atau sekarang
sedang muncul, ya? Jika kamu ternyata lebih peduli padanya dibandingkan aku. Diam-diam
kamu selalu menunggu kabarnya, yang mungkin kamu dapatkan dari orang lain. Mendapatkan
kabarnya melalui perantara. Mungkin kamu hanya ingin memastikan bahwa dia
sekarang baik-baik saja, sekarang dia sudah bahagia, terlihat dari senyumannya.
Senyuman yang pernah membuatmu senyum sendiri, jatuh cinta. Ah, aku bisa apa. Hanya
mengutuki takdir bahwa itu tak adil buatku. Aku menangis tanpa suara dan air
mata. Menyakitkan sekali dagelan ini.
Dear kamu,
maafkan aku sekali lagi. Aku tak seperti yang kamu kira. Kamu juga tak tahu
sepenuhnya tentang diriku. Banyak yang tersembunyi dariku. Tapi apakah kamu
penasaran dengan yang tersembunyi itu? Seperti aku yang selalu penasaran dengan
segala ketersembunyianmu sampai-sampai aku sibuk mencari tahu sendiri dan
berujung pada sakit hati yang makin liar.
Satu hal yang
harus kamu tahu. Saat ini aku sedang terluka. Lagi dan lagi.
Mau kamu
siramkan lagi air garam itu ke lukaku?
Terimakasih, kamu :)
Yogyakarta, 17 Januari 2016 | 6:46
Aulia RA
Aku menulis ini karena terinspirasi dari kalimat seseorang.
Mainan favoritmu, apa masih aku?
Haha, lucu memang. Ternyata aku begitu menikmati permainan yang kamu buat. Awalnya aku ragu, tapi lama-lama aku mau ikut bermain. Lama dan lama sekali aku makin terhanyut. Tidak sadar diri. Sampai-sampai lupa waktu aku telah bermain terlalu lama. Lupa diri bahkan. Asik, iya asik. Senang, ya senang memang. Aku sangat sangat sangat menikmati. Aku ibarat anak kecil yang kamu iming-imingi uang lima ribu agar aku terus melanjutkan permainan itu. Aku sudah ketagihan barangkali. Rasanya susah untuk berhenti. Aku belum sadar, aku masih di arenamu.
Tiba-tiba aku mengatup. Menutup. Rapat.
Aku kaget, aku mengutuki waktu. Pun diriku. Bodoh sekali diriku. Aku baru sadar, saat aku asyik bermain mengikuti permainanmu, kamu sebenarnya juga sedang bermain di arena yang lebih luas. Arena keserakahanmu. Saat kamu sudah puas, kamu bawa semua keuntungan. Aku hanya mendapat rugi. Aku telah dibodohi. Ya, tentu saja, olehmu. Siapa lagi? Aku cukup bersyukur telah menyenangkanmu lewat permainan gila ini. Walau disisi lain aku menyesal. Aku sudah bilang, aku akan mengorbankan sesuatu asal kamu bahagia. Tapi mengapa pengorbanan itu dilukai dengan penyesalan dan kekecewaan. Apakah pengorbananku belum cukup? Apakah kamu belum puas mempermainkanku? Atau apakah permainan ini belum selesai dan kamu sedang menyusun babak-babak barunya?
Aku tahu kamu tidak menghargaiku, tidak menghormatiku, kamu menyepelekanku, kamu merugikan diriku, kamu membohongiku. Kamu sebenernya hanya hidup sendiri dan kehadiranku, yah, sebagai selingan saja. Numpang lewat istilahnya.
Tidak, aku tidak akan balas dendam atas semua perbuatanmu. Aku hanya bisa mendoakanmu yang terbaik saja. Karena perkataan tidak mampu membuka hati nuranimu. Biar kutitipkan kataku pada Tuhan, biar dia yang membisikkan kepadamu. Aamiin.
Pengorbanan apalagi yang harus aku beri kepadamu, "laki-laki"ku?
Tentang permainan kesukaanmu, apakah itu masih aku?
Yogyakarta, 17 Agustus 2015 | 00:35
Aulia RA | ririsaulia.tumblr.com
Aku berbeda. Aku sekarang menjadi pribadi yang berbeda. Efek dari menganggur barangkali. Ah, intinya aku sudah berbeda.
Aku yang labil, tidak jelas, gamang, tak bisa mengambil keputusan yang jelas, dan aku yang merepotkan banyak orang.
Teman, setiap hari yang kulihat cuma dinding di ruangan 3x3 meter ini. Dan isinya yang berantakan. Buku-buku yang berserakan dimana-mana. Aku seperti hidup di dalam kandang, hanya sesekali keluar dari kandangku. Namun, tempat ini yang menjadi saksi perjuangan dan kesedihanku. Bagaimana tidak, aku setiap hari menangis disini. Bantal basah karena air mata, mata sembab karena air mata, sampai-sampai mataku perih karena keseringan menangis.
Aku bosan disini. Sangat sangat bosan. Jenuh yang menumpuk membuatku emosi. Tapi aku hanya bisa menahan emosi itu. Setiap hari melakukan rutinitas yang membosankan, disuruh ini-itu, dan kadang dimarahi. Aku pernah berpikir, bagaimana jika aku minta sakit keras sama Tuhan biar aku diperlakukan baik.
Aku tidak punya teman. Teman-temanku di perantauan masing-masing dengan kesibukan dan kehidupan masing-masing pula. Aku merasa sendirian. Aku menjaga jarak dengan orang yang baru aku kenal. Aku menutup diri. Aku takut ditanyai macam-macam. Teman-temanku hidup di telepon seluler ini. Aku hanya bisa menjumpai mereka lewat teks pesan singkat atau e-mail. Aku sangat butuh mereka. Aku ingin mereka bisa disampingku, menemaniku di masa sulitku. Tapi mereka sudah mempunyai kehidupan sendiri. Aku ingin menceritakan macam-macam: apa yang sedang aku rasakan, apa yang aku pikirkan, apa yang mengganggu pikiranku, kekecewaanku, kegelisahanku, dan masih banyak lagi. Mungkin aku salah menyampaikan, caraku yang salah. Dan untuk temanku yang sudah terlalu sering menerima curhat-curhatku, aku minta maaf, mungkin kamu sangat bosan dan sudah enggan untuk menanggapi. Semua kembali ke akar paragraf ini, aku ingin menceritakan dan ingin didengar. Aku tidak bisa memendam masalahku sendiri, aku butuh orang lain untuk berbagi, agar aku mendapat saran-saran yang baik dari kamu, Temanku. Maaf jika selama ini aku menganggumu. Aku butuh teman dan ingin diperhatikan. Aku kesepian.
Saat melihat fotomu bersama teman lain, aku cemburu. Aku takut dilupakan. Karena aku tidak mudah mendapatkan seorang teman.
Aku jijik saat melihat wajahku di cermin. Wajah yang sudah lebih tua dari umur aslinya. Kantung mata yang makin menghitam, kulit yang makin kering dan keriput. Tidak ada senyum, tidak ada wajah ceriaku. Aku ingin seperti dulu, selalu ceria bersama teman-temanku, walau sedih aku tetap bisa tersenyum, bahkan tertawa lebar. Aku jadi ingat temanku pernah bilang, "Hatimu terbuat dari apa sih, Ris? Nggak pernah marah walau diledek habis-habisan." Ya,itu beberapa tahun lalu. Saat aku masih selalu ceria, selalu tertawa dan tersenyum, tidak ada muka kusut begini. Aku sudah sangat cuek dengan diriku, aku sudah enggan mengurus diri. Berantakan setiap hari.
Kalian tidak sepenuhnya mengetahui tentang diriku. Apa yang sudah kulalui, kuhadapi, dan kuterima. Segala kenyataan pahit yang membuatku makin kuat. Aku pernah marah dengan Tuhan, mengapa aku yang dipilih untuk menghadapi semua ini? Dari berjuta orang di dunia, dari sekian banyak perempuan, mengapa harus aku? Namun, pada akhirnya aku menyadari satu hal. Dengan diberinya cobaan ini, Tuhan sangat sayang denganku, Tuhan ingin aku ingat denganNya, bahwa aku masih punya dan selalu punya Dia.
Apakah kalian pernah merasakan hal yang sama denganku?
Bagaimana sulitnya membuat keputusan?
Apakah lebih baik bertahan atau tidak?
Bagaimana aku bisa bertahan dan menjalankan satu paham?
Bagaimana menentukan langkah yang benar yang harus aku ambil?
Bimbang di banyak hal?
Merelakan sesuatu yang sangat diperjuangkan dulu?
Menghadapi kemungkinan buruk?
Sekali lagi, aku hanya butuh kalian, Temanku. Aku butuh nasehat-nasehatmu. Maaf jika caraku menyampaikan salah.
Ada satu yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Jika kalian berada di posisiku, apakah kalian bisa sekuat aku?
Parakan, 24 Mei 2015; 10:11
Aulia RA
Kepada orang yang baru patah hati
Persilahkan dirimu bersedih
Orang-orang punya pandangan yang aneh tentang bersedih
Seakan-akan bersedih adalah hal yang tabu
Seakan kamu harus buru-buru tertawa setelah hal buruk menimpa
Tapi tidak
Seperti hujan di tepi senja, kamu harus membiarkan setiap sendu yang ada
Setiap kematian butuh peratapan
Begitupun cinta yang telah mati
Maka lakukanlah apa yang orang patah hati lakukan
Menangis hingga kamu tidak bisa mendengar suaramu sendiri
Makan coklat sebanyak-banyaknya
Mandi air panas hingga jarimu pucat
Pergi ke cafe dengan tatapan nanar
Pesan satu buah es teh manis
Karena kopi mungkin terlalu pait untuk diminum di saat seperti ini
Izinkan lah dirimu bersedih
Menangislah seakan ini terakhir kalinya kamu dikecewakan seseorang
Menangislah seakan kamu lupa cara nya berharap
Kepada orang yang baru patah hati
Setelah kamu bosan bersedih
Inilah saatnya kamu mengangkat dirimu kembali
Mulai dengan hal yang mudah
Kamu bisa mulai mencoba mengambil gitar
Dan mengambil nada-nada mayor yang bahagia
Ambil piano dan bermain soneta yang indah
Atau jika kamu tidak bisa bermain musik
Lihatlah dirimu di depan cermin dan bersenandunglah
Lalu diantara nada-nada itu bisikkan kepada dirimu sendiri
“AKU PANTAS UNTUK BAHAGIA”
Kepada orang yang baru patah hati
Selalu ada teman untuk menemani kamu
Pergilah bertemu temanmu
Tertawalah sampai lupa waktu
Tanyakan kabar teman yang lain
Pamerlah keberhasilan mu
Dibidang-bidang yang kamu suka
Dan jika memungkinkan nongkronglah sampai kamu diusir dari tempat itu
Emang sih kenangan terhadap dirinya kadang masih sering mengganggu
Tempat yang pernah kalian datangi tidak akan terasa sama
Teman yang belum tahu mungkin akan menghampirimu dan bertanya
“Si dia mana ya?”
Yang kamu akan balas dengan senyum tipis
Entah bagaimana menjawabnya
Tapi percayalah satu hal
“SEMUA INI AKAN BERLALU"
Sama seperti hal lain di dunia
Semua hal buruk pasti akan beranjak pergi
Hujan pasti akan terganti langit biru
Gelap pasti terganti terang
Dan luka pasti terganti dengan senyuman tipis di bibirmu
Kepada orang yang baru patah hati
Bersabarlah
Karena di setiap gelap ada cahaya kecil
Karena di setiap sakit ada pembelajaran
Karena kamu
“PANTAS UNTUK BAHAGIA KEMBALI”
-Raditya Dika
Posted by
Aulia RA
,
08:27
"Selamat tidur, ya. Jangan lupa berdoa. Besok kalau udah bangun langsung kabarin aku supaya aku telepon."
Kalau ditanya siapa yang paling rindu membaca kalimat di atas, aku berani bersumpah demi apapun bahwa aku sangat ingin kita seperti dulu lagi, sehangat dulu lagi, dan seindah dulu lagi. Tapi, keadaan telah berubah, aku harus membiasakan diri untuk terlelap tanpa membaca chat-mu. Aku harus tidur tanpa berharap besok kamu akan menelepon dan menghubungiku.
Berat. Tapi harus aku jalani. Hidup berjalan ke depan bukan? Dan, aku ingin keluar sebagai pemenang, bukan pecundang.
Terima kasih untuk segala kenangan. Terima kasih untuk banyak pelajaran. Perlahan aku akan segera melupakanmu dan mencari penggantimu.
DD, 16/05/15
Aku merindukannya. Ya, aku sangat merindukan lelaki itu. Seorang lelaki yang telah membuat aku mempertaruhkan masa depanku padanya. Karena aku percaya dengan dia. Masa depanku adalah masa depannya. Perjuanganku adalah perjuangannya. Seperti yang dia katakan dulu kepadaku.
Aku memang salah, aku telah melanggar janjiku sendiri untuk tak menjalin hubungan dengan seseorang. Apakah aku bodoh? Ah, aku rasa tidak. Aku hanya tak ingin menyia-nyiakan kehadirannya. Lelaki hebat seperti dia, lelaki pemberani, sifat yang aku temukan pada sosoknya. Lelaki yang pantas untuk menjadi masa depan, lelaki yang cukup dewasa, kebapakan, dan terkadang manja laiknya anak-anak.
Aku tak memiliki kriteria khusus untuk seorang lelaki, jika cinta ya sudah tidak memandang apapun, kan? Hanya menerimanya apa adanya. Dialah lelaki yang aku impikan, aku ingin dia mengajakku menua bersamanya, sampai hembus nafas terakhir, hingga raga tak lagi mampu berbuat banyak. Lelaki yang ingin aku jadikan sosok ayah untuk anak-anakku. Lelaki yang ingin kujadikan pemimpin untuk keluarga kecilku.
Aku sadar, dirinya bukan sepenuhnya milikku. Bahkan, dia belum sah jadi milikku. Dia masih seratus persen milik keluarganya, aku bukanlah prioritas pertama di hidupnya. Bukan aku saja yang merindukannya, orang-orang terdekatnya pasti sangat merindukannya. Canda tawanya, perhatiannya, leluconnya, pun marahnya aku sangat rindu.
Saat ini aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya erat dan memastikan keadaannya. Walau aku tahu dia baik-baik saja, aku ingin bertemu dengannya.
Aku harap setiap pagi datang dia kembali pulang. Pulanglah sayang, aku ingin kau kembali pulang, aku tak ingin semua mimpiku hanya menjadi pemanis dalam tidurku.[]
Parakan, 1 Mei 2015 | 23:58
Aulia RA
Aku masih ingat betul dengan hari itu, dengan kejadian itu. Aku memang seorang pelupa, tapi untuk hal itu, Tuhan mengijinkan otakku merekamnya dengan baik dan menyimpannya dalam kemasan memori paling manis.
Aku kira tak akan ada masa-masa seperti sekarang jika tak ada masa yang dulu. Kita melewati masa demi masa, waktu demi waktu, demi suatu tujuan yang entah apa. Tuhan masih merahasiakan. Pun malaikat malu untuk memberitahukan pada kita. Ah, dia hanya berpura-pura malu saja, padahal memang enggan untuk mengatakan.
Segala kebetulan yang kutemui dalam perjalanan hidup ini, aku rasa itu bukan 'kebetulan'. Menurutku tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, kebetulan yang hanya kebetulan. Sejatinya kebetulan-kebetulan itu bernama takdir. Bukankah Tuhan sudah menggariskan hidup seseorang sebelum ia lahir di dunia? Takdir itu ada yang sudah mutlak tak bisa diapa-apakan lagi, tinggal menjalaninya saja. Dan ada pula takdir yang masih bisa kita perbaiki, kita rubah, selama kita mau berubah. Aku jadi ingat perkataan Tuhan, "Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaumku, jika mereka tak mengubah keadaan kaumnya sendiri", yah intinya begitu. Asal manusia mau berusaha, Tuhan akan mengabulkan.
Aku pernah putus asa dengan takdir. Aku membenci takdirku. Aku mengutukinya. Bahkan aku pernah benci dengan Tuhan. Oh, Tuhan, maafkan aku. Aku hanya tak bisa terlalu sulit. Aku merasa segala perjuangan dan pengorbananku tidak menghasilkan apa-apa. Nol besar. Hingga akhirnya aku sadar bahwa Kau menginginkanku untuk lebih sabar. Jika batas kemampuan orang lain dalam menghadapi ujian adalah 10, maka Kau berikan ujian padanya sampai skala 7. Sementara batas kemampuanku adalah 100, maka Kau memberiku ujian sampai skala 99. Kemampuanku diatas orang lain, kesabaranku lebih dari orang lain, Kau memberiku lebih dari orang lain. Tapi Tuhan, ijinkan aku mengeluh kepadaMu. Aku capek, aku lelah, aku jenuh.
Lagi-lagi aku menyadari bahwa yang kupikirkan bukan hanya diriku yang sedang lelah ini. Ada orang yang harus selalu aku perhatikan, aku pandangi, aku rawat, aku awasi, aku ajari, aku bahagiakan, aku sayangi, dan semua itu aku lakukan dari jauh. Orang itu salah satu tokoh dari kepingan puzzle masa laluku. Tokoh yang membuat aku selalu ada dan karena dialah aku mampu berdiri sebagai pemeran utama. Aku ingin tokoh itu selalu menjadi bagian dari setiap keping puzzle yang aku rangkai. Biar aku tetap jadi tokoh utama yang mengatur kemana jari ini akan meletakkan keping demi kepingnya.
Namun ketika semua tampak rumit dan gantung, aku tak tahu harus bagaimana selain diam. Oh Tuhan, aku bingung. Banyak yang aku inginkan, banyak hal yang kupinta darinya. Ini yang selalu menjadi konflik. Saat yang kuinginkan berbanding terbalik dengan yang dia beri. Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Wajar jika aku berkeinginan dan wajar pula dia yang tak mampu turuti inginku. Tetapi aku ingin seperti yang lain, Tuhan. Apakah aku salah? Aku rasa ini sederhana. Aku ingin membuatnya berbanding lurus.
"Ini mau diletakkan dimana?"
"Biar disini saja." Jawabmu.
Rasa-rasanya, semua ingin aku simpan rapat-rapat dalam kotak itu. Biarlah tak nampak lagi karena tertutup debu dan kelihatan mengenaskan di pojok ruang sana. Ah, perasaan ini, makin hari makin jadi, makin rumit dan tak karuan. Bosan dan jenuh yang makin liar, gerakannya tak dapat aku kekang. Tapi ia tak bisa lari, karena tidak ada yang membawanya pergi.
Kamu dari masa laluku, sekarang, dan nanti, asal kamu tahu, aku (masih) menunggumu.
Parakan, 29 April 2015 | 03:47
Aulia RA
Kepada kamu...
Ada yang bilang,
"Mencoba mendidik cinta dengan jarak dan mengajar sayang dengan waktu, agar ia berujung pada keikhlasan.
Belajar memiliki dengan berserah, berdekatan melalui jauh, dan berharap semuanya semakin jernih.
Mari salahkan jarak yang mengundang rindu, yang salah bila dipendam, dan bertambah bila dipandu.
Kita memang yang lemah ketika berhadapan dengan rasa, namun itulah indah dan pertanda kita masih manusia.
Tak banyak waktu bisa kuberi, namun satu hal yang bisa aku janji, apa yang ada padaku pasti aku bagi.
Wajar ada jumpa ada pisah, bukan dunia yang masalah, tapi surga yang jadi arah.
Semoga setelah ujian ini kita semakin bernilai dan terhadap kewajiban-kewajiban kita tak lalai.
Jangan tanyakan apakah ini perjumpaan terakhir kali, yang kita tahu pasti hanya padaNya semua akan kembali."
Disudut ruangan ini aku menangis tiap malam. Ketika aku mengingatmu, ketika rindu yang semakin lama semakin menyiksaku. Ketika aku terus menunggumu. Yang semakin larut semakin menyesakkan. Dan aku hanya bisa berharap dan berharap, aku masih memiliki sedikit waktu untuk merasakan dirimu, dirimu yang nyata. Bukan dirimu di dalam mimpiku dan di dalam bayanganku saja. Aku tak mau. Aku ingin lebih dari itu. Wujud yang tiga dimensi, bukan dua dimensi. Wujud yang sama seperti diriku. Manusia. Manusiamu.
Maaf, aku manusia, aku punya keinginan. Aku boleh kan menginginkanmu?
Lalu kepekatan rindu itu mengantarkanku pada keadaan bernama jenuh. Aku jenuh, benar-benar jenuh. Aku tidak sabar menghadapi ini. Maafkan aku.
Sabar, percaya, ikhlas, adalah hal yang sangat sulit buatku. Sekolah pun tak cukup mengajari ini. Kehidupan lah yang mampu.
Melewati berbagai ujian di hidup, sepertinya sudah aku lakukan beberapa. Dan sekarang adalah proses dari ujian yang lain. Kamu mau membantuku melewati ini, kan? Aku tidak bisa melakukannya sendirian, aku butuh kamu.
Belajar, belajar, dan belajar. Itu yang selalu aku lakukan sampai saat ini. Pun ketika aku jatuh, aku bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi, lagi-lagi aku jatuh, lagi-lagi aku bangkit, begitu seterusnya. Karena hidup memang begitu.
Aku berjanji padamu, aku akan membagi semuanya kepadamu. Tak usah khawatir. Sekarang aku masih mencicil sedikit demi sedikit apa yang hendak kubagikan. Akan tiba waktunya nanti saat semua aku bisa berikan kepada kamu. Yang sabar, ya?
Diatas langit masih ada langit, apalagi yang namanya manusia akan selalu memandang yang ada diatasnya. Banyak yang lupa untuk memandang ke bawah, terlebih untuk bersyukur. Bersyukurlah dengan apa yang sudah kamu miliki sekarang. Nafsu tak ada habisnya, hati yang bisa membatasi.
Hanya rasa syukur yang menghentikan pencarian dan cukup dengan mengembangkan apa yang sudah dimiliki. Sekali lagi, tak banyak hal yang kupinta, cukuplah berhenti disini dan tetaplah menyisipkan tangan di jariku untuk kembali. Jadikan aku surga yang selalu kamu rindukan.
Aku mencintaimu. Selalu.
Kepada kamu dari hati yang selalu menunggumu, mengharapkanmu, dan mencintaimu.[]
Parakan, 15 April 2015 | 20:28
Aulia RA
Aku membayangkanmu sudah menungguku diluar, menjemputku. Lalu kamu memanggil namaku dengan suara khasmu. Suara yang telingaku sudah berteman akrab namun begitu kurindukan. Satu hal yang aku lakukan saat itu,tersenyum lebar kepadamu, ingin memelukmu tapi aku malu. Tatapan yang menusuk, jemari tangan yang menghangatkan. Seketika sirna penat seharian.
Aku membayangkanmu sudah berada disamping ranjangku, membangunkanku. Aku tak mau bangun, berat rasanya untuk membuka mata. Selimut masih melekat, bantal guling pun menggoda untuk dipeluk. Namun, belaian tanganmu di rambutku dan kecupmu di keningku laiknya sihir yang langsung membuatku terjaga. Dirimu, mentari pagiku, tersenyum manis seraya berkata "selamat pagi".
Aku membayangkanmu membawakanku sekotak coklat. Kamu menantangku berlomba. Siapa yang memakan potongan terakhir, dia yang akan menang. Aku masih mengunyah potongan coklat, sementara tanganmu telah siap mengambil sepotong yang terakhir. Aku pasrah sambil menelan kunyahan coklat. Potongan terakhir sudah ditanganmu, tetapi kamu suapkan kepadaku. "Yeey, kamu menang!", serumu. Aku cemberut namun segera berubah menjadi tawa kecil.
Aku bahagia melihat mereka sering bersama. Memasang foto bersama, bertualang bersama, dan hidup bersama. Itu bukan picisan tapi sebentuk kebahagiaan. Mungkin tak ada yang bisa membuat begitu bahagia selain kebersamaan. Tak ternilai, saking mahalnya.
Jam terus berganti. Dapat kudengar suara detiknya. Hingga 8760 jam, hal yang kubayangkan adalah semu. Tak ada sambutan, tak ada ucapan, tak ada perkataan. Tetes air mata mengiringi pergantian tiap detiknya.
Kepada kamu dari hati yang masih bertahan.
Parakan, 5 April 2015 | 23:23
Aulia RA
Aku tidak
sabar menunggu datangnya hari ini, hari yang kamu janjikan. Hari yang menjadi
pertemuan aku dan kamu setelah lama tak bertemu, menahan rindu. Pertemuan nanti
adalah ritual melepas kangen, merasakan kembali aroma tubuhmu, hangat pelukmu,
dan mesra kecupmu.
Kukayuh sepeda
tua kesayanganku menuju tempat pertemuan kita. Sebuah tempat dimana disitu ada
danau yang tidak begitu besar, di sekelilingnya ada berbagai macam pepohonan,
bunga ester dan bunga lili. Aku ingin impian kita terwujud, untuk bisa membeli
tempat ini, lalu kita bangun rumah kita. Aku juga ingin membangun rumah pohon
di salah satu pohon-pohonnya. Anak-anak kita pasti senang sekali, berlarian di
tanahnya yang coklat, memancing ikan dan bermain-main di danaunya. Udaranya segar,
sejuk, anginnya berhembus lembut. Aku ingin segera tiba saat itu, kita yang
selalu mesra, anak-anak yang selalu bahagia, disana, rumah kita. Masa depan
kita.
Aku tidak
bisa membayangkan apa saja yang berubah dari kamu. Atau masih sama saja seperti
dulu? Kulit coklatmu, kumis tipismu, mata tajammu, alis tebalmu, dan ah, semuanya
yang tak akan aku sebutkan. Serta segala yang ada pada dirimu, yang mungkin
telah berubah. Kamu tahu? Jerawat bandel di pipi kiriku sudah hilang, dan
rambutku sudah bertambah panjang. Aku suka dengan rambutku yang hampir
sepinggang ini, tapi ujungnya aku potong
sedikit, biar kelihatan rapi waktu ketemu kamu.
Di keranjang
di belakang sepedaku, aku membawakanmu sesuatu yang kamu pasti sangat suka. Kubawakan
makanan favoritmu, nasi goreng, kamu pasti belum sarapan. Sekarang nasi goreng buatanku
sudah enak, tidak seperti dulu lagi, semoga kamu suka. Nanti kita makan bersama
disana. Teh manis hangat juga akan membuat dirimu lebih baik kan di pagi ini? Aku
juga membawa cemilan untuk menemani kita mengobrol nanti. Sudah seperti mau
piknik saja ya aku ini, hehe. Oh iya, selain itu aku juga membawakan hadiah
buat kamu. Buku favoritku, yang aku ingin sekali kamu membacanya, semoga kamu
ada waktu luang untuk membaca buku ini ya. Dan sebuah hadiah satu lagi yang
kamu akan tahu isinya saat kamu membuka bungkusannya, dan semoga kamu terkesan.
Hari ini,
Sabtu pukul delapan pagi. Sungguh, aku sangat tidak sabar. Kukayuh sepedaku
lebih kencang.
***
Akhirnya,
aku sampai juga di tempat favorit kita, tempat pertemuan kita.
Namun aku
belum menemukan sosokmu disana, diseberang danau hanya ada ayah dan anak sedang
memancing. Kulirik arlojiku, masih menunjukkan pukul delapan kurang lima belas
menit. Ah, kamu selalu begitu, datang tepat waktu, jika tidak ya terlambat. Oke,
kali ini aku menang dari kamu, aku datang lebih dulu.
Rasanya aku
sudah lama sekali tidak merasakan keindahan tempat ini. Tempat yang selalu
memberikan inspirasi untuk menulis atau menggambar. Untung saja buku sketsa ini
selalu aku bawa, jadi sembari menunggumu aku akan membuat gambar ilustrasi ayah
dan anak yang memancing disana.
Menggambar
selalu membuatku lupa waktu, dan ternyata saat ini sudah pukul sembilan. Benar-benar
tak terasa. Dan kamu belum juga datang, aku khawatir. Tidak mungkin kamu lupa
dengan janjimu sendiri. Janji yang kamu tulis dan kamu kirimkan kepadaku 5
bulan lalu. Dan tidak mungkin kamu tega membatalkan janji ini tanpa memberitahuku sebelumnya. Aku bingung
dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu kuputuskan untuk tetap menunggumu. Mungkin
kamu ada sesuatu yang membuatmu terlambat datang, atau halangan yang lainnya. Tak
dapat kusangkal aku sangat khawatir. Apa kamu mengerjaiku saja? Cuma mempermainkanku?
Aku coba tetap berpikiran jernih.
Aku berjalan-jalan
mengelilingi danau, memetik beberapa bunga. Nasi goreng dan tehnya sudah tidak
hangat lagi. Ayah dan anak tadi sudah beranjak meninggalkan dermaga di pinggiran
danau. Aku duduk disana, melamun. Membayangkanmu sudah berdiri dibelakangku
lalu memanggilku. Dan ketika aku tahu kamu sudah disini, aku akan langsung
memeluk erat dirimu. Namun itu hanya khayalanku saja. Tak pernah terjadi. Air mataku
menetes.
Matahari sudah
berada diatas kepala, menyengat tubuhku. Aku masih saja terduduk disini, tak
peduli sengatan matahari, aku akan tetap menunggumu disini. Biarlah air mataku
menetes dan bercampur dengan air danau, biarlah, aku tidak peduli, akan tetap
menunggumu disini. Biarlah aku sendiri disini, mati disini, aku tak peduli, aku
akan selalu dan tetap menunggumu disini. Sampai kamu datang. Itu bukti
kesetiaanku, jika kamu menanyakan.
***
Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari
Ketika menghangatkan
tubuh dan aku menengok ke atas, kulihat awan membentuk wajahmu. Sang bayu
membisikkan namamu. Pun ketika
malam,bulan sabit yang kulihat bahkan melengkungkan senyummu. Gemintang,
konstelasinya, menjadi kamu. Semua yang kulihat, seolah-olah adalah dirimu. Aku
ingin memandang bulan bersamamu, sesuatu yang sudah lama tak aku dapatkan. Aku ingin
menggapai awan dan bulan itu, menggapaimu. Ah, tetapi itu tak nyata,itu hanya khayalan.
Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Kutahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu sayangku
Kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli, kuterus berlari
Apa itu
firasat? Firasat adalah cara alam berbicara kepada kita. Tapi saat itu kita
tidak dapat memahami padahal kita semua bisa berdialog dengan semesta. Karena dari
mulai berbicara, kita hanya mengenal bahasa manusia bukan bahasa alam. Kadang aku
tak tahu, mana yang firasat mana yang bukan. Mana yang firasat mana yang
pertanda. Yang kutahu, aku hanya rindu kamu. Semoga selalu ada waktu. Waktu untuk
bertemu kamu.
Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Dan lihatlah sayang
Hujan terus membasahi seolah luber air mata
Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Ku hanya ingin kau kembali
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Aku pun sadari
Kau takkan kembali lagi
Cintaku,
aku ingin kamu cepat pulang. Aku sangat rindu, rindu kamu. Cepatlah, aku tak
sabar. Aku tak bisa sabar jika semua itu tentangmu. Jangan pergi lagi, jangan
tinggalkan aku. Biarkan aku disampingmu. Biarkan aku bersamamu. Mendampingimu dan
hidupmu. Biarkan aku.
Hanya air
mata yang berderai, mengalirkan pertanyaan, “Akankah kamu kembali?”
***
Siang,
panas. Malam, gelap. Hujan, dingin. Aku tak peduli. Aku akan disini sampai kamu
datang. Aku akan pergi meninggalkan tempat ini bersamamu. Bersamamu.
Biarlah
aku sendiri disini, mati disini, aku tak peduli, aku akan selalu dan tetap
menunggumu disini. Sampai kamu datang. Itu bukti kesetiaanku, jika kamu
menanyakan.
***
Itu hanya
firasat. []
Parakan, 21 Maret 2015
Aulia RA
Hari ini, pertemuan ini, tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tak menyangka bahwa ini merubah segalanya. Aku percaya, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Apapun yang terjadi sudah disiapkan skenarionya oleh Tuhan. Dan berbagai skenario itu memiliki suatu tujuan. Karena aku telah sadar, kebetulan-kebetulan itu bernama takdir.
***
Aku adalah seseorang yang memiliki kebiasaan baru sekarang. Memikirkannya. Entah mengapa, apapun yang dia lakukan selalu nampak indah dimataku. Terlebih saat dia tersenyum. Ah, tidak dapat hilang dari pikiran, bahkan saat tidur pun masing terbayang. Tuhan, indah sekali makhluk yang Kau ciptakan itu, sungguh, itu benar-benar mahakaryaMu.
Tapi dia tak lebih dari sekadar angan. Tidak, tidak, aku tak akan memilikinya. Lebih baik aku lupakan saja dirinya, pikirku. Oh Tuhan, Kau tahu apa yang aku rasakan, tolonglah jangan perumit keadaan, aku tidak ingin menyakitinya. Aku harus mundur, ya, aku harus mundur, lagi-lagi pikiran ini datang. Sudahlah, mungkin aku harus menjalani tanpa tahu keadaan yang pasti.
Cinta, mengapa selalu saja rumit? Karena terkadang cinta bukan hanya soal dua orang yang saling mencintai, memiliki perasaan yang sama, atau telah bersepakat membuat komitmen. Padahal sebenarnya cinta itu perkara sederhana, jika kita bisa sabar, bersabar sedikit. Yang bikin rumit cinta adalah manusia itu sendiri. Terlalu tergesa-gesa, terlalu gegabah, terlalu sok pintar, terlalu sok mampu, dan terlalu sok pantas.
Seperti urusanku yang satu ini. Aku yang terlalu tergesa-gesa padahal baru kemarin, persis kemarin ini baru saja bertemu dengannya. Apakah iya ini memang cinta? Cinta yang datang dengan sangat cepat? Bahkan mengenalnya pun belum, hanya sekadar tahu nama saja. Aku tak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama. Itu cuma omong kosong, bualan orang-orang yang memuja cinta. Tapi dengan apa yang terjadi padaku ini, apakah kejadian ini belum cukup membuktikan bahwa cinta semacam itu memang ada? Atau bisa jadi ini adalah kekaguman sesaat saja? Entahlah. Butuh waktu lama untuk membuktikan hipotesis itu.
Ketika jatuh cinta, seperti ada kupu-kupu yang ingin keluar dari perutmu. Membuat agak mual dan sedikit geli. Ada perasaan yang bercampur aduk disitu. Lalu kupu-kupu tersebut berhasil keluar. Ia terbang di sekitar kepalamu, berkeliling mengitarinya. Macam ada bunga saja diatas rambutmu. Bahkan saat si kupu-kupu mengepakan sayapnya, ia mengeluarkan bubuk cahaya yang berpendar, memukau. Cinta, membuat yang tak ada seolah-olah menjadi ada dan membuat yang ada menjadi sepuluh kali lebih nyata.
Perkara ini semakin serius saja seiring bertambahnya waktu. Aku meyakinkan diri, ini bukan kekaguman sesaat, ini adalah cinta. Aku telah jatuh cinta dengan dia. Meskipun aku belum terlalu mengenalnya. Aku tak munafik, aku ingin memilikinya, sangat ingin memilikinya. Bahkan ada kemantapan yang muncul bahwa aku tak hanya ingin menjadi kekasihnya tetapi juga ingin menjadi pendamping hidupnya.
Tetapi lagi-lagi aku merasa tak pantas untuk memilikinya. Dia sudah terbang ke langit sedangkan aku masih berpijak di bumi. Jauh. Sulit untuk menggapainya. Aku selama ini hanya diam, berharap tatapanku dapat berbicara padanya, mengatakan bahwa aku mencintainya.[]
Parakan, 17 Maret 2015
Aulia RA
Cinta.
Banyak sekali yang bisa kita bicarakan mengenai benda bernama cinta. Hal menyedihkan, menyakitkan, pun membahagiakan dapat terjadi karena cinta. Siapa yang dapat menyangkal datangnya cinta ini? Tidak ada.
Cinta itu buta. Cinta itu gila. Cinta itu misteri. Cinta itu hina.
Akan aku ceritakan padamu tentang hal ini, Kawan. Buatku, cinta itu tega. Sangat sangat tega. Cinta sangat menyiksa. Bagaimana tidak? Cinta datang tiba-tiba, tidak memandang siapa yang akan ia datangi. Cinta datang begitu saja dan tidak gampang ia pergi. Kadang cinta tak datang di waktu yang tepat, sehingga ada seseorang yang tersakiti. Tak dapat kutampik pula jika cinta itu datang tanpa kesengajaan. Cinta itu tega tapi juga tidak sepenuhnya bersalah. Bahwa sebenarnya takdirlah yang membuat cinta hadir. Dari banyak kebetulan yang manusia alami, manusia tidak sadar bahwa kebetulan-kebetulan itu bernama takdir.
Salah satu kebetulan bernama takdir itu adalah ketika kita mencintai seseorang yang sudah dimiliki orang lain. Ya, orang yang kita cintai ternyata mencintai orang lain. Betapa menyakitkannya kenyataan tersebut. Kita sungguh-sungguh ingin menampik perasaan itu. Namun, perasaan adalah perasaan. Kita tidak bisa membohonginya. Aku mencintainya, iya, memang itu yang aku rasakan. Berbagai pertanyaan muncul. Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa harus dengannya? Mengapa kenyataannya seperti ini? Sekuat tenaga kita mencoba lari dari kenyataan itu, tapi ia justru lebih kuat mengejar kita. Semakin kita tidak peduli padanya, semakin sulit untuk melepas. Rasanya sudah tak sanggup untuk pergi dari cinta. Ah, teganya cinta itu. Andai saja aku tak memiliki segumpal perasaan cinta ini. Aku tak akan merasa selemah ini. Gamang, bimbang, takut, kecewa, terluka, semua bercampur jadi satu. Melupakan seseorang mungkin tak sesulit melupakan perasaan.
"Ketika kau jatuh cinta dengan orang yang sudah dimiliki orang lain, mengakui kenyataannya adalah menyakitkan. Semakin kau tahu berapa besar mereka saling mencintai, rasa sakit yang kau rasakan, dan itu akan lebih menyakitkan jika kau memilih untuk menjadi seorang pengalah. Kau harus menjaga dalam-dalam setiap perasaan, menunggu untuk melihat bahwa kau baik baik saja disini.
Lalu, salahkah?
Mungkin, itu hanya waktu yang tidak tepat yang kita miliki. Berjalannya waktu lambat laun mempertemukan kita nantinya. Kita bertemu pada waktu yang salah dan kaulah yang terluka."
Lagi-lagi, tidak ada yang dapat menyalahkan cinta. Cinta itu datang tiba-tiba, tanpa permisi, tanpa mengenal siapa yang akan ia datangi.
Kita juga tidak bisa menyalahkan seseorang yang mencintai orang yang sudah dimiliki orang lain. Dia tidak tahu jika sudah ada yang memiliki, ataupun sudah tahu dan cinta yang datang tidak tepat. Entahlah. Susah untuk menyelesaikan perkara soal cinta.
Saat mencintai seseorang kita hanya bisa memberi. Bukankah tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah? Terlebih untuk menerima, menerima setiap keadaan, entah itu menyenangkan atau menyakitkan. Lalu, kita hanya bisa menunggu. Menunggu sampai tiba waktunya kita akan dipertemukan dengan seseorang yang kita cintai dalam sebuah ikatan manis, lalu disebut sejoli. Namun, jika pada akhirnya kita tidak dipertemukan dengannya, kita harus mau menerima. Biarkan dia hidup bahagia bersama orang yang mencintainya dan kita senantiasa mendoakannya. Dalam proses menunggu itu, kita jatuh cinta sendirian dan menjaga cinta sendirian. Dengan harapan akan mendapat yang terbaik. Harapan untuk hidup bersamanya.
Cinta bukan soal memiliki atau tidak memiliki. Tapi cinta adalah soal menerima.
Parakan, 10 Februari 2014 ; 19:50
Aulia RA
Aku ingin bercerita kepadamu, Kawan. Tentang apa yang aku alami dan aku rasakan. Ya, mungkin ini tidaklah penting buatmu. Tapi aku hanya ingin bercerita saja. Maka, ijinkanlah aku menceritakannya sekarang.
Kawan, aku bingung dengan apa yang terjadi pada diriku akhir-akhir ini. Aku yang dari ceria tiba-tiba berubah jadi gundah. Aku yang semangat tiba-tiba jadi lesu. Aku yang sehat lalu di kejap berikutnya ambruk begitu saja. Rasa-rasanya aku sudah sangat lelah. Seperti baru saja melakukan perjalanan yang sangat panjang. Laiknya seorang musafir.
Ah, entahlah. Aku tidak mengerti. Ada yang mengambil kekuatanku, mungkin? Itu mungkin-mungkin saja. Ataupun yang menyedot kebahagiaanku. Haha, sudah seperti Dementor saja ya.
Lagi-lagi aku tidak tahu jawabannya. Aku selalu tidak tahu. Yang merasakan adalah diriku, bukan kalian dan seharusnya aku yang tahu. Tapi aku tidak. Begitu bodohnya diriku ini.
Bodoh.
Bodoh.
Bodoh.
Bodoh.
Bodoh.
Hmm, aku lelah. Aku capek. Aku lemas. Aku lesu. Aku tidak bersemangat. Aku malas.
Akhir kata. Mungkin aku kurang piknik, Kawan. Aku butuh hiburan.
Parakan, 5 Februari 2015 ; 20:00
Aulia RA
"Aku sudah cukup bahagia dengan ini. Dengan segala perlindungan yang aku dapatkan darimu. Kenyamanan saat aku rasakan kehangatan tubuhmu dan aku cium aroma tubuhmu. Pengakuan, pembelaan, dan pengorbanan yang sudah kau beri padaku. Sungguh, setiap kecupmu menambah sepuluh kali lipat kebahagiaanku. Namun, pengkhianatan, mengurangi sepuluh ribu kali lipat kebahagiaanku." []
Adakah tempat bernama masa lalu? Ya, ada. Jelas adanya. Apakah kau sesekali menengok ke belakang bahkan bertandang sebentar ke rumah dulumu? Ah, entahlah. Kau tak mau menjawab dan tak pernah menjawab.
Apakah rumah dulumu menggodamu untuk mampir sebentar? Barangkali kau ingin melihat-lihat isi rumah dulumu. Apakah masih sama seperti dulu saat kau tinggali atau sudah jauh berbeda. Atau malah sudah ada penghuni baru disana. Yah, kau bisa bernostalgia sejenak kan?
Bagaimana? Apa kau sudah memilih? Ingin mampir atau melanjutkan perjalanan? Yaah.. Lagi-lagi kau diam. Aku bingung harus bagaimana. Aku sedang membawamu dalam perjalanan ini. Tolonglah jangan menyulitkan aku! Kau diam aku anggap kau memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Hei, apakah kau punya bayangan tentang masa depan? Sederhananya, apa yang ingin kau harapkan di esok hari yang akan datang? Rumah baru, apa kau ingin? Kau diam lagi. Ya sudah, aku anggap kau ingin rumah baru.
Hmm..aku punya tawaran buatmu. Kau bisa dapat rumah baru, tapi kau harus tinggal denganku. Bagaimana? Kau mau? Ya, kau harus tinggal denganku karena rumah itu adalah milikku. Kau boleh melakukan apa saja di rumah itu. Anggap saja rumah sendiri. Ya memang harus dianggap rumah sendiri, kan itu sudah jadi rumahmu juga,hahaha. Dengan kata lain, aku sudah memberikan rumah itu untukmu. Kau mau tidak? Mengapa dari tadi kau hanya diam saja. Diammu adalah "ya" buatku. Jadi sekarang kuputuskan bahwa kau menerima tawaranku dan kau akan tinggal bersamaku di rumah kita. Rumahku sudah menjadi rumahmu, kan? Berarti rumah kita.
"Lantas apa yang harus aku lakukan jika kau memilih kembali sedangkan aku masih ingin membawamu pergi?" []
Parakan, 20 Januari 2015 ; 20:30
Aulia RA
Posted by
Aulia RA
,
20:33
"Aku sudah cukup bahagia dengan ini. Dengan segala perlindungan yang aku dapatkan darimu. Kenyamanan saat aku rasakan kehangatan tubuhmu dan aku cium aroma tubuhmu. Pengakuan, pembelaan, dan pengorbanan yang sudah kau beri padaku. Sungguh, setiap kecupmu menambah sepuluh kali lipat kebahagiaanku. Namun, pengkhianatan, mengurangi sepuluh ribu kali lipat kebahagiaanku." []
Adakah tempat bernama masa lalu? Ya, ada. Jelas adanya. Apakah kau sesekali menengok ke belakang bahkan bertandang sebentar ke rumah dulumu? Ah, entahlah. Kau tak mau menjawab dan tak pernah menjawab.
Apakah rumah dulumu menggodamu untuk mampir sebentar? Barangkali kau ingin melihat-lihat isi rumah dulumu. Apakah masih sama seperti dulu saat kau tinggali atau sudah jauh berbeda. Atau malah sudah ada penghuni baru disana. Yah, kau bisa bernostalgia sejenak kan?
Bagaimana? Apa kau sudah memilih? Ingin mampir atau melanjutkan perjalanan? Yaah.. Lagi-lagi kau diam. Aku bingung harus bagaimana. Aku sedang membawamu dalam perjalanan ini. Tolonglah jangan menyulitkan aku! Kau diam aku anggap kau memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Hei, apakah kau punya bayangan tentang masa depan? Sederhananya, apa yang ingin kau harapkan di esok hari yang akan datang? Rumah baru, apa kau ingin? Kau diam lagi. Ya sudah, aku anggap kau ingin rumah baru.
Hmm..aku punya tawaran buatmu. Kau bisa dapat rumah baru, tapi kau harus tinggal denganku. Bagaimana? Kau mau? Ya, kau harus tinggal denganku karena rumah itu adalah milikku. Kau boleh melakukan apa saja di rumah itu. Anggap saja rumah sendiri. Ya memang harus dianggap rumah sendiri, kan itu sudah jadi rumahmu juga,hahaha. Dengan kata lain, aku sudah memberikan rumah itu untukmu. Kau mau tidak? Mengapa dari tadi kau hanya diam saja. Diammu adalah "ya" buatku. Jadi sekarang kuputuskan bahwa kau menerima tawaranku dan kau akan tinggal bersamaku di rumah kita. Rumahku sudah menjadi rumahmu, kan? Berarti rumah kita.
"Lantas apa yang harus aku lakukan jika kau memilih kembali sedangkan aku masih ingin membawamu pergi?" []
Parakan, 20 Januari 2015 ; 20:30
Aulia RA
Hati yang bersalah itu berkata,
"Tidak! Tidak! Aku tetap disini. Kalian boleh jalan, tapi biarkan aku disini. Mungkin, suatu saat aku akan menyusul. Yang jelas bukan sekarang. Aku akan memperbaiki diri. Suatu saat, ya baiklah, suatu saat, aku benar-benar akan menyusul kalian. Namun, kini...biarkan aku tenggelam dalam penyelasanku yang mega. Biarkan aku direndam masa lalu yang menghimpit dan menekan hingga aku amblas, mendebu, darah menguap, hancur—raga ini hangus jadi udara! Tinggalkan, tinggalkan saja aku di belakang. Aku sampah. Aku ekor. Aku kotoran. Aku pantas terinjak, merana, ada di belakang!"
(Dari sebuah buku yang saya lupa judulnya)
Temanggung, 9 Januari 2015 ; 11:13
Aulia RA
Posted by
Aulia RA
,
21:51
Sometimes I might feel that I'll be happier alone
To think about love, somebody who cares about, somebody to share my joy
This time, I'll take a chance
Because I know, I'll never know
What I'll get someday
Until I have really tried to know you
More than just a friendship
So, if here (in my heart) somebody I miss
I tell him that I do.. I do miss that somebody
You know who the somebody that I mean?
Yes, it's true, that's you
And I'll take the time to know what red love is
Because only time is capable of understanding
How great love is
-naninani-
Temanggung, 9 Januari 2015
Aulia RA
Posted by
Aulia RA
,
20:59
Berbicara tentang perbedaan, tak akan pernah ada habisnya. Yang ini lah, itu lah. Ada saja yang akan dibahas.
Kata orang, perbedaan itu memberi warna kehidupan. Berbeda, tak sama dengan yang lain. Berbeda, bisa saja jadi yang baik atau buruk. Dari perbedaan dapat tercipta suatu harmoni, suatu keselarasan. Pun adanya kesatuan dalam perbedaan.
Di kasusku, aku menjadi tokoh yang berbeda. Yang diberi yang demikian ini. Mau tak mau ya harus menerima. Aku itu unik, aku itu spesial, aku itu berbeda. Ya, berbeda.
Jika orang lain dapat melakukan itu aku tidak. Jika orang lain dapat merasakan itu, aku tidak. Jika orang lain diperlakukan begitu, aku tidak.
Buatmu, entah aku ini termasuk berbeda yang baik atau yang buruk. Aku akan sangat senang jika ternyata aku adalah berbedamu yang baik. Tapi aku hanya bisa minta maaf jika ternyata aku adalah berbedamu yang buruk. Aku hanya mencoba, berusaha untuk jadi yang terbaik. Mungkin kamu sempat membandingkan aku dengan orang lain. Mengapa aku hanya begini, sedangkan orang lain bisa begitu, bisa lebih dari aku.
Dan mungkin kamu kecewa dengan aku yang begini.
Ya, aku hanya seseorang yang dipilih Tuhan dengan perbedaan seperti ini. Apakah aku bisa menerima perbedaan ini? Dan apakah orang lain mau menerima aku yang berbeda ini? Bukankah orang paling berhati lapang dan bijaksana lah yang mampu 'menerima'?
Berbedanya seseorang karena hal baik, itu akan membikin dia serasa berkelana diatas awan. Bangga bukan kepalang. Tersanjung-sanjung dengan perbedaan yang dia miliki. Terbuai dengan segala kelebihan yang dia punyai. Jika keterlaluan, besarlah kepalanya.
Lain dengan yang ini.
Berbedanya seseorang karena hal buruk, itu akan membikin dia serasa amblas ke dalam tanah. Sedih tak terkira. Terseok-seok membawa perbedaan yang dia miliki. Tersendat-sendat menarik beban yang dia punyai. Jika keterlaluan, putuslah harapannya.
Aku pun merasa, aku dikaruniai perbedaan dalam hal yang tidak baik. Aku tak bisa menjadi seperti dia, dia, atau dia. Tak bisa melakukan seperti dia. Tak bisa merasakan seperti dia. Dan tak diperlakukan seperti dia.
Hal yang dulu dan kini pun sudah berbeda. Ah, begitu banyak hal yang berubah, hal yang berbeda.
Terkadang aku suka kepikiran, aku berbeda tapi ingin melakukan dan merasakan yang sama. Terlebih untuk diperlakukan yang sama dengan orang lain.
Apakah bisa aku membahagiakanmu dengan kondisi diriku yang berbeda ini? Ditambah segala keterbatasan ini? Aku bingung, aku tak tahu. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum karena aku. Membuatmu bangga karena aku. Membuatmu bahagia karena memilikiku.
Diriku hanya seperti ini. Apa adanya, tak mau melebih-lebihkan. Yang tampak olehmu adalah yang kupunya dan sanggup kuberi.
Namun aku cukup bahagia dengan perbedaan yang ada padaku. Bersyukur karena bisa melakukan, merasakan yang tidak bisa orang lain lakukan. Pun dengan diperlakukan demikian, aku masih bersyukur. Karena aku masih bisa merasakan hal bernama 'kecewa' bahkan 'sakit hati'. Aku sudah mau menerimanya, Tuhan.
Sekali lagi, maafkan aku dengan aku yang berbeda seperti ini. Aku yang tak disanjung, tapi dihina. Aku tak membuatmu bangga, malah membuatmu kecewa. Aku yang tak bahagia, aku yang merana. Aku yang dekil, bukan aku yang bersih mulus. Aku yang menangis, bukan aku yang tersenyum. Aku yang berbeda, aku yang tak sama dengan orang lain.
Temanggung, 10 Januari 2015 ; 01:25
Aulia RA
Berjuang adalah berani berbeda dari yang lain, berani jatuh, berani sakit, berani dihina, berani sedih, berani tidak bahagia, berani lelah, berani tidak dipercaya, dan berani menangis.
Persetan dengan omongan orang dan bualannya. Persetan dengan ludah yang Anda buang ke muka saya. Persetan!
Anda tidak pernah tahu perjalanan yang saya lalui ini bagaimana. Dan Anda tidak pernah tahu masa depan saya ini akan bagaimana. Sudahlah, tutup saja mulut Anda yang bau busuk itu.
Semoga kita bertemu di masa depan tanpa saling menyakiti pun mencaci-maki.
2015 datang, berhati-hatilah.
Temanggung, 31 Desember 2014 ; 21:27
Aulia RA
Tik tok tik tok.
Masih hening.
Tik tok tik tok.
Yang kudengar hanya itu.
Tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok.
Tak ada yang lain. Suara yang kuharapkan sedari dulu. Sedari detik yang lalu, menit yang lalu,jam yang lalu,hari yang lalu, minggu yang lalu, bulan yang lalu,bahkan tahun yang lalu mungkin.
Ternyata semua tak ada. Ya, benar benar tak ada. Hanya ilusi. Hanya bayangan yang kubangun dengan hati berbunga-bunga lantas runtuh dengan kekecewaan yang mendalam.
Tak kuduga. Tak kusangka. Tak dapat kusangkal pula bahwa semua itu tidak ada.
Lagi-lagi hanya ini yang kudengar.
Tik tok tik tok. Tik tok tik tok. Lalu tik tok tik tok lagi.
Temanggung, 21 Desember 2014
Aulia RA